GOMA - Tiga penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan setidaknya 12 warga sipil tewas pada hari kedua protes anti-PBB di timur Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) pada Selasa (26/7/2022), kata pihak berwenang.
Protes dipicu oleh keluhan bahwa misi PBB, yang dikenal sebagai MONUSCO, telah gagal melindungi warga sipil dari kekerasan milisi yang telah berkecamuk selama bertahun-tahun.
BACA JUGA: Diculik Pemberontak, Wanita Kongo Dirudapaksa dan Dipaksa Masak Daging Manusia
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk kekerasan itu, kata Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq dalam sebuah pernyataan.
"Dia menggarisbawahi bahwa setiap serangan yang ditujukan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB dapat merupakan kejahatan perang dan menyerukan kepada otoritas Kongo untuk menyelidiki insiden ini dan dengan cepat. membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan," tambah Haq dalam pernyataan yang dilansir Reuters.
Demonstrasi dimulai pada Senin (25/7/2022) di Kota Goma dan menyebar pada Selasa ke Butembo, di mana seorang tentara PBB dan dua polisi PBB bagian dari misi MONUSCO ditembak mati.
Di kedua kota tersebut, pasukan penjaga perdamaian PBB dituduh melakukan pembalasan dengan kekerasan ketika ratusan pengunjuk rasa melemparkan batu dan bom molotov, merusak dan membakar gedung-gedung PBB.
BACA JUGA: Helikopter Jatuh, 8 Penjaga Perdamaian PBB Meninggal
Seorang wartawan Reuters melihat penjaga perdamaian PBB menembak mati dua pengunjuk rasa di Goma, di mana Juru Bicara Pemerintah Patrick Muyaya mengatakan setidaknya lima orang tewas dan 50 terluka.
Di Butembo setidaknya tujuh warga sipil tewas dan jumlah yang tidak diketahui terluka, kata kepala polisi kota itu Paul Ngoma.