Menapaki Ketimpangan Ekonomi di Zaman Firaun, Masa Suram Peradaban

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Rabu 03 Agustus 2022 05:01 WIB
Ilustrasi (Foto: DEA)
Share :

Ketimpangan ekonomi melanda sejumlah masyarakat kuno. Perubahan dalam sistem pertanian diyakini penyebab pertama ketimpangan pada masa modern.

Tanggal 26 November 1922 menandai penemuan yang dianggap paling terkenal dalam sejarah arkeologi.

Pada hari itu, ahli Mesir Kuno dari Inggris, Howard Carter, membuat lubang kecil untuk memasukkan lilin ke dalam pintu tertutup ruang pemakaman Tutankhamun dan dengan demikian menerangi interiornya.

Saat matanya perlahan beradaptasi dengan kegelapan, dia bisa melihat sebuah ruangan yang sebelumnya tidak pernah dijamah selama lebih dari 3.000 tahun.

Tutankhamun hanyalah seorang firaun yang tidak dikenal selama masa hidupnya, dan ada bukti bahwa dia dikubur dengan tergesa-gesa. Peti mati kedua dari tiga peti mati yang ada di sana tampaknya awalnya milik orang lain.

Namun peti mati yang terletak di bagian dalam, di mana muminya ditemukan, terbuat dari emas murni, dengan berat hampir 113 kilogram.

Orang hampir tidak dapat membayangkan betapa mengesankan penguburan para pemimpin yang lebih terkenal seperti Khufu, Thutmose III, atau Ramses II. Sayangnya, semua makam mereka telah dijarah di zaman kuno.

Mereka ingin memahami kehidupan sehari-hari dalam peradaban masa lalu.

Namun, kedua sisi ekstrem—kekayaan raja yang luar biasa dan keberadaan rakyat jelata yang hidup dengan susah payah—menimbulkan diskusi penting: seperti apa evolusi ketidaksetaraan dalam masyarakat kuno.

Salah satu caranya, meneliti nilai barang-barang yang disimpan di dalam makam. Namun keberadaan benda-benda mewah di dalam makam belum tentu menjadi bukti kesenjangan sosial. Kerap kali strata sosial tak bisa diukur dengan benda mewah semata, tapi juga melalui prestise dan kekuasaan.

Sejumlah arkeolog telah mencoba menerapkan sejumlah prinsip ekonomi untuk meneliti perbedaan sosial di situs kuno tertentu dan membandingkan datanya dengan tempat-tempat berbeda.

Sebuah studi yang dipimpin oleh Samuel Bowles dari Santa Fe Institute dan diterbitkan di jurnal Nature pada 2017 mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menerapkan koefisien Gini di sejumlah besar situs arkeologi, baik di Dunia Lama yang mencakup kawasan Asia dan Afrika maupun di Benua Amerika.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya