Menapaki Ketimpangan Ekonomi di Zaman Firaun, Masa Suram Peradaban

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Rabu 03 Agustus 2022 05:01 WIB
Ilustrasi (Foto: DEA)
Share :

Meskipun koefisien Gini tertinggi untuk masyarakat masa lalu yang ditentukan oleh Institut Santa Fe serupa dengan yang ditemukan di beberapa negara Eropa saat ini (misalnya, dengan nilai sekitar 60 di Pompeii dan Kahun, pemukiman Mesir dari Dinasti ke-12), mereka tetap di bawah nilai masyarakat modern yang paling tidak setara seperti China dan Amerika Serikat (masing-masing dengan koefisien Gini 73 dan 85), yang jelas memiliki populasi lebih besar.

Dari perspektif sejarah, ini menunjukkan bahwa peningkatan ukuran populasi membawa ketidaksetaraan yang lebih tinggi.

Namun, koefisien Gini tidak selalu dapat diterapkan karena beberapa pemukiman tumbuh seiring waktu bersamaan dengan penghancuran pemukiman sebelumnya.

Banyak situs kuno yang tidak mungkin dipelajari secara detail. Misalnya, di Hisarlik—Troy lama—setidaknya 10 kota muncul di atas pendahulunya hanya dalam 2.000 tahun, membuat mereka cukup sulit untuk diteliti.

Penafsiran ekonomi pemukiman masa lalu juga dikritik oleh kalangan komunitas arkeologi. Beberapa berpendapat bahwa kualitas dan kekokohan bahan bangunan sama pentingnya dengan ukuran rumah.

Di kota-kota modern sekarang, kita tahu bahwa lokasi—misalnya, dekat dengan pusat kota—biasanya lebih penting daripada ukuran.

Terakhir, kekayaan yang mencolok—perabotan mewah, lukisan dinding, mosaik, dan sebagainya—yang masih dapat ditemukan di beberapa rumah hasil galian seperti di Pompeii harus dipertimbangkan juga, meskipun fitur seperti itu biasanya tidak terpelihara dengan baik.

Salah satu cara mengatasi keterbatasan ini adalah dengan membandingkan koefisien Gini dengan apa yang disebut ketidaksetaraan kesehatan setiap populasi, karena jenazah manusia yang terkubur terkadang lebih terawetkan daripada bangunan.

Terdapat beberapa indikator skeletal (gigi berlubang, artrosis, trauma, defisiensi vitamin) yang dapat mencerminkan status kesehatan penduduk pada setiap periode.

Penggalian kuburan pada tahun 2006 sampai 2013 di Pemakaman Makam Utara di Amarna (sebuah situs Mesir Kuno yang berasal dari tahun 1346 SM) menunjukkan kematian pada usia dini. Fenomena itu ditemukan terutama pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda.

Penggalian situs itu juga menemukan kekurangan makanan yang meluas dan indikasi kerja keras. Ini menunjukkan kondisi kesehatan yang buruk dan kondisi kerja di bawah standar bagi sebagian besar komunitas perkotaan ini.

Ditemukan bahwa 16% dari semua anak di bawah usia 15 tahun memiliki cedera tulang belakang dari jenis yang terkait dengan membawa beban berat.

Tidak satu pun dari mereka memiliki barang-barang kuburan dan kadang-kadang dikuburkan bersama dengan beberapa orang lain, dengan sedikit memperhatikan disposisi tubuh. Ini merupakan gambaran suram yang kontras dengan penggambaran glamor keluarga firaun dalam gaya Amarna.

Indikator tambahan akan menjadi bukti tingkat kematian bayi yang tinggi, meskipun pelestarian sisa-sisa kerangka anak-anak selalu lebih sulit daripada tulang orang dewasa karena proses konservasi yang berbeda.

Perubahan status kesehatan dapat digunakan untuk memastikan transisi budaya dan leluhur juga. Dalam pengertian ini, mungkin perubahan paling mencolok yang diamati adalah antara pemburu-pengumpul dan petani pertama di Eropa.

Yang terakhir tidak hanya menunjukkan tanda-tanda kesehatan yang lebih buruk—seperti gigi berlubang, yang hampir tidak ditemukan pada kelompok pertama—tetapi juga tingkat kematian bayi yang lebih tinggi.

Perkembangan terkini dalam analisis isotop stabil dari rasio karbon dan nitrogen dalam kolagen tulang dapat memberikan informasi tentang status nutrisi dan pola mobilitas yang terkait dengan individu tertentu.

Misalnya, analisis penguburan berstatus tinggi di Helmsdorf, Jerman, menunjukkan bahwa seseorang memiliki asupan protein lebih tinggi daripada rekan sezaman lainnya.

Ini menunjukkan bahwa asupan makanan dapat menjadi indikator status sosial, seperti yang terjadi pada masyarakat saat ini.

Kunci untuk memahami panorama sosial masa lalu adalah bahwa kuburan kuno tidak hanya dapat memberikan indikator potensial ketidaksetaraan dalam bentuk barang-barang kuburan dan bahkan status kesehatan yang berbeda, tapi juga materi genetik yang diawetkan di dalam sisa-sisa manusia.

Informasi yang diperoleh dari DNA mereka dapat digunakan, untuk pertama kalinya, menghubungkan leluhur dengan kekuatan sosial di setiap periode.

Seperti barang-barang pemakaman, tempat peristirahatan yang istimewa juga bisa berfungsi sebagai penanda status.

Sekitar 6.500 tahun yang lalu, fenomena pembangunan struktur batu pemakaman besar—yang dikenal sebagai makam megalitik—muncul, terutama di pesisir Atlantik Eropa. Tren itu mencapai puncaknya di kompleks makam lorong besar, seperti Newgrange di Lembah Boyne, Irlandia, yang memiliki gundukan hampir 91 meter dengan diameter dan 15 meter.

Asal-usul dan makna monumen-monumen ini, yang membutuhkan investasi besar dalam hal tenaga kerja, telah diperdebatkan selama lebih dari satu abad.

Analisis genetik dari dua puluhan individu yang ditemukan di berbagai makam megalitik dari Skandinavia hingga Pulau Orkney dan Irlandia menghasilkan beberapa petunjuk sosial yang menarik.

Di beberapa tempat, terutama di Kepulauan Inggris, lebih banyak pria daripada wanita yang dimakamkan di tempat-tempat utama ini, yang menunjukkan bias jenis kelamin.

Sesuai dengan pengamatan ini, keturunan sebagian besar individu yang memiliki hubungan kekerabatan dapat ditelusuri melalui garis paternal.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya