INGGRIS – Tiga anggota parlemen Eropa menuduh Inggris mengancam kesehatan dan kehidupan laut di pantai Prancis dengan membiarkan limbah mentah dibuang ke Selat dan Laut Utara.
Peringatan polusi telah dikeluarkan untuk hampir 50 pantai di Inggris dan Wales, setelah hujan lebat menyebabkan luapan limbah dialihkan ke sungai dan laut.
Parlemen Eropa-Prancis menuduh Inggris mengabaikan komitmen lingkungan dan mempertaruhkan kehidupan laut dan penangkapan ikan.
Anggota parlemen dalam sebuah surat yang menyerukan tindakan hukum atau politik dari Komisi Eropa mengatakan sejak hengkang dari Uni Eropa (UE), Inggris telah mengabaikan komitmen lingkungannya.
Baca juga: Parlemen Eropa Pilih Presiden Perempuan Pertama dalam 20 Tahun
Para anggota parlemen berpendapat meskipun tidak lagi terikat oleh undang-undang Uni Eropa, Inggris masih menjadi penandatangan konvensi PBB yang relevan tentang melindungi perairan bersama.
Baca juga: Presiden Parlemen Eropa David Sassoli Meninggal Dunia
Ketiga anggota parlemen semuanya adalah anggota partai pro-UE En Marche Presiden Prancis Emmanuel Macron. Salah satunya, Pierre Karleskind menjabat sebagai Ketua komite perikanan Parlemen Eropa.
Dia mengatakan Inggris tidak dapat dibiarkan mengabaikan komitmen yang dibuat di bawah Brexit dan membahayakan 20 tahun kemajuan Eropa dalam standar kualitas air.
Parlemen Eropa memperingatkan bahwa dalam jangka pendek kebocoran limbah berisiko menggenangi perairan di pantai Prancis dan juga dapat membahayakan keanekaragaman hayati laut, perikanan, dan budidaya kerang.
"Saluran dan Laut Utara bukanlah tempat pembuangan," kata Stéphanie Yon-Courtin, seorang politisi Normandia yang juga anggota komite perikanan parlemen Uni Eropa, dikutip BBC.
Merespon hal ini, seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan tuduhan mereka "tidak benar".
Perusahaan air Inggris juga menegaskan mereka berinvestasi dalam memecahkan masalah.
Seperti diketahui, sebagian besar Inggris memiliki sistem pembuangan limbah gabungan, sehingga air limbah dari toilet dibawa ke tempat pengolahan limbah melalui pipa yang sama dengan air hujan.
Untuk mencegah rumah dan ruang publik kebanjiran setelah hujan lebat, sistem ini kadang-kadang dirancang untuk meluap dan membuang limbah yang tidak diolah ke sungai dan laut.
Cuaca panas akhir-akhir ini meningkatkan risiko banjir, karena tanah yang kering tidak mampu menyerap air dengan cepat.
Water UK, yang mewakili industri air Inggris, mengatakan perusahaan air "setuju ada kebutuhan mendesak" untuk bertindak dan menginvestasikan lebih dari 3 miliar poundsterling (Rp52 triliun) untuk meningkatkan luapan sebagai bagian dari program lingkungan nasional yang lebih luas antara 2020 dan 2025.
Seorang juru bicara Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan Inggris mengatakan tidak benar bahwa Inggris tidak berpegang teguh pada target kualitas air.
"Undang-Undang Lingkungan telah membuat undang-undang kami lebih kuat tentang kualitas air daripada ketika kami berada di UE, dari target untuk mengatasi polusi nutrisi hingga kekuatan baru untuk mengatasi zat berbahaya di perairan kita,” terangnya.
"Kami juga telah membuat undang-undang bagi perusahaan air untuk mengurangi frekuensi dan volume pembuangan dari luapan badai dan membuat undang-undang bagi perusahaan air untuk memasang monitor baru untuk melaporkan secara real time setiap pembuangan limbah di daerah mereka,” lanjutnya.
Namun, Demokrat Liberal (Defra) menuduh perusahaan air gagal memantau limbah dengan benar, dengan mengatakan banyak perangkat pemantauan seperti itu tidak dipasang atau tidak berfungsi.
Juru bicara Defra mengatakan pemerintah akan segera meluncurkan rencana terbesar di Inggris untuk mengurangi luapan limbah selama badai.
(Susi Susanti)