PODGORICA — Komputer di markas besar pemerintahan Montenegro dicabut dan internet dimatikan di tengah serangan siber besar-besaran di negara Balkan anggota NATO itu. Para pejabat mengatakan bahwa serangan itu memiliki ciri khas peretas pro-Rusia dan layanan keamanannya.
Serangan terkoordinasi yang dimulai sekira 20 Agustus itu melumpuhkan platform informasi online pemerintah dan menempatkan infrastruktur penting Montenegro, termasuk perbankan, sistem tenaga air dan listrik, dalam risiko tinggi.
Para ahli menggambarkan serangan itu sebagai intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dan terpanjang dalam sejarah negara itu. Ini merupakan yang terbaru dari serangkaian serangan siber sejak Rusia menginvasi Ukraina di mana peretas menargetkan Montenegro dan negara-negara Eropa lainnya, kebanyakan dari mereka adalah anggota NATO.
Menteri Pertahanan Rasko Konjevic mengatakan pejabat pemerintah disarankan oleh para ahli dunia maya, termasuk tim penyelidik FBI yang dikirim ke Montenegro untuk terputus dari jaringan internet demi alasan keamanan.
“Kami telah menghadapi tantangan serius terkait serangan siber selama sekira 20 hari, dan seluruh sistem negara, sistem administrasi negara, dan sistem layanan kepada warga berfungsi pada tingkat yang agak terbatas,” kata Konjevic kepada The Associated Press.
Dia mengatakan para ahli dari beberapa negara berusaha membantu memulihkan sistem komputer pemerintah Montenegro dan menemukan bukti siapa yang berada di balik serangan itu.
Pejabat Montenegro mengatakan serangan yang melumpuhkan infrastruktur digital pemerintah kemungkinan dilakukan oleh geng ransomware berbahasa Rusia yang umumnya beroperasi tanpa campur tangan Kremlin selama tidak menargetkan sekutu Rusia.