Kisah Njoto, Tokoh PKI yang Masih Hadir dalam Rapat Kabinet Usai G30SPKI

Solichan Arif, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 06:11 WIB
Share :

LIMA Hari usai pemberontakan G30SPKI, Petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI), Njoto masih terlihat di Istana Bogor. Raut mukanya tampak lesu, pucat, dan tidak bersemangat.

Njoto seperti tertekan dan lebih banyak diam. "Hei, Oei (Oei Tjoe Tat), kowe duduk dekat Njoto. Wani ngomong?. Kabeh wedi karo dia. Kowe ora". Presiden Soekarno yang kebetulan melihat situasi serba "tak nyaman" itu berseloroh, melontarkan teguran dalam bahasa campuran Jawa ngoko dan Indonesia.

Kebetulan hanya Oei Tjoe Tat yang duduk di sebelah Njoto. Para menteri Kabinet Dwikora yang lain pada menjauhinya. Entah takut disangkutpautkan dengan operasi 30 September 1965 atau karena alasan lain, semua menjaga jarak darinya.

Tak ada satupun yang menyapa. Saat itu jelang sidang pertama Kabinet 100 Menteri (istilah lawan politik Soekarno) di Istana Bogor. Sidang digelar mendadak. Tidak ada undangan seperti biasanya. Istana langsung menghubungi dan meminta masing masing segera kumpul.

Sedikitnya 40 orang menteri hadir. Semua mengenakan pakaian putih putih sebagaimana seragam pembantu Presiden. Njoto yang juga anggota kabinet memilih menyendiri. Njoto baru sebulan menikmati jabatan Menteri Negara. Politisi cum seniman yang mengenalkan lagu Genjer Genjer dari Banyuwangi ke Jakarta itu diperbantukan untuk urusan presidium.

Dalam autobiografi "Memoar Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden Soekarno", Oei mengaku takut menyapa lebih dulu. Dalam hati sempat bertanya tanya. Njoto kok masih aman?. Malah menghadiri sidang. Awalnya Oei berharap pria yang memiliki nama pena Iramani itu memulai percakapan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya