Kisah Njoto, Tokoh PKI yang Masih Hadir dalam Rapat Kabinet Usai G30SPKI

Solichan Arif, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 06:11 WIB
Share :

Robert Cribb dari Monash University dalam karyanya "The Indonesian Killings of 1965-1966: Studies from Java And Bali" menyebut jumlah orang orang komunis (pengurus, kader dan simpatisan) yang dibantai mencapai 1 juta jiwa. Rincinya 800.000 di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah serta 200.000 di Bali dan Sumatera. Bung Karno nampak lain dari biasanya.

Dia terlihat prihatin, tertekan. Kesantaian, kecerahan dan tawa Bung Karno lenyap. Suasana berganti penuh keprihatinan, kewaswasan, ketegangan. Kadang menyelip kekecewaan mendalam bercampur kemarahan. "Geharewar (hingar bingar red) ini supaya ditenangkan dulu, baru kemudian diadakan politieke opplosing (pemecahan politik red)".

Oei Tjoe Tat dalam memoarnya menulis Bung Karno mengatakan "Saya tetap akan menjalankan Revolusi met jullie (Dengan kalian red), dengan kabinet ini". "Mijn chief concern, is het behoud van de Republiek en de Revolutie (Kepentingan pokok saya adalah kelangsungan Republik dan Revolusi red)".

"Jangan ragu dan khawatir saya dalam pengaruh Dewan Revolusi. Saya tidak akan tunduk padanya. Ben je gek dat ik mijn kabinet laat demisioneren (Gila, aku membiarkan kabinetku didemisionerkan red)".

Kata kata Bung Karno lebih ditujukan kepada beberapa anggota pimpinan Angkatan Bersenjata yang turut hadir. Bung Karno berupaya meyakinkan mereka. Semuanya terdiam. Bung Karno melanjutkan "Musuh terbesar bagi Nekolim: RRT di Utara, Indonesia di Asia Tenggara.

Indonesia dan Soekarnonya is the greatest And dangerous spot in Southeast Asia (Tempat terbesar dan paling berbahaya di Asia Tenggara red)". "Maka taktik mereka, pisahkan Tiongkok dari Indonesia yang sekarang ini benar-benar mulai jadi kenyataan. Jones, Dubes Amerika Serikat di Jakarta telah memberi Rp150 juta untuk mengembangkan the free world ideology (ideologi dunia bebas red)".

"Ada surat penyerahan dan surat tanda terima di tangan saya. Pecunia non olet, geld stinkt niet (uang tak berbau red). Jangan masuk perangkap Nekolim. Anders kunnen wij onze. Revolutie wel oprollen (Kalau tidak gulung tikarlah Revolusi kita red)".

Bung Karno mengatakan peristiwa 30 September bukan hanya persoalan Angkatan Darat. Menurut Bung Karno ada persoalan politik di sana. Karenanya pemimpin besar revolusi itu meminta ada tinjauan politik secara tenang.

Adanya aksi bakar membakar dan bunuh membunuh kata Soekarno menunjukkan ada pihak yang menunggangi. "Epiloog yang tegen mijn wens in, tegen mijn wens in (menentang kehendakku red) ". Dengan teriak emosional Bung Karno berseru kepada semua pihak untuk tidak memanaskan keadaan. Revolusi, kata Bung Karno tengah dipertaruhkan.

Partai-partai yang turut membakar diancamnya akan dibubarkan. "Aku memang lagi memikirkan pembubaran Partai Komunis Indonesia". Ungkapnya dalam bahasa Indonesia dan Belanda: "Ketetapan hati saya als jullie mij nog lusten, behoud mij! Zo niet, gooi mij eruit (Kalau kalian masih menyukai saya, pertahankan saya, kalau tidak, lempar saja saya keluar red) ".

Sampai 2-3 kali, Bung Karno berseru "Selamatkanlah Revolusi ini !". 12 Maret 1966 atau sehari setelah penandatanganan Supersemar (11 Maret) atau enam bulan paska operasi 30 September. Angkatan Bersenjata menggelar show of force. Di atas arak-arakan tank, mobil lapis baja, duduk, berdiri mahasiswa, pemuda pemudi sambil meneriakkan kemenangannya menyingkirkan pemerintahan Soekarno.

Kepada orang-orang terdekatnya Bung Karno menuturkan "Biarlah aku lepaskan jabatan kepresidenanku daripada harus menyaksikan perang saudara, yang nantinya bisa dimanfaatkan kekuatan Nekolim".

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya