Kisah Njoto, Tokoh PKI yang Masih Hadir dalam Rapat Kabinet Usai G30SPKI

Solichan Arif, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 06:11 WIB
Share :

Operasi Subuh adalah jawaban atas rencana Indonesia hendak meningkatkan konfrontasi, yaitu melaksanakan Konfrensi Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA). Soekarno gencar-gencarnya mengibarkan slogan ganyang Malaysia. Slogan Inggris dilinggis, Amerika disetrika terus digelorakan. Konfrontasi ini dipicu langkah Inggris dan Malaysia yang mengumumkan sepihak penyatuan negara.

Pengumuman pada September 1963 itu dituding Bung Karno sebagai pelanggaran perjanjian (Inggris, Filipina dan Indonesia) sekaligus contoh imperialisme Inggris. Leimena tidak mewakili kelompok kiri.

Dia juga bukan simpatisan PKI. Dalam sidang kabinet kedua 6 November 1965 Leimena kembali menegaskan dalang utama G 30S adalah Nekolim. Tetapi aktor aktornya orang-orang Indonesia sendiri. Orang-orang yang mudah diadu domba. Apalagi setelah terjadi aftermath (akibat busuk red), G 30S, kata Leimena adalah set back nasional dan internasional. Njoto, satu satunya perwakilan PKI yang hadir di sidang kabinet mengatakan "Memang ada oknum-oknum PKI yang terlibat. Tetapi juga ada oknum-oknum CIA (Central Intelligence Agency)."

Di buku "Dokumen CIA, melacak penggulingan Soekarno dan G30S 1965" mengulas bagaimana Amerika melalui komunikasi surat kawat (telegram) terus memantau situasi politik ekonomi Indonesia. Amerika berupaya membujuk Soekarno untuk menghentikan konfrontasi dengan Malaysia.

Soekarno diminta mengganti jalan negosiasi damai. Karena tidak berhasil, Amerika mencoba merongrong wibawa Soekarno. Caranya dengan mengurangi bantuan militer dan ekonomi. Sebelumnya bantuan teknis disalurkan kepada kelompok sipil, polisi dan para perwira yang terlibat aktivitas sipil pemberantasan malaria di Indonesia. Kemudian program bantuan militer (MAP) senjata, komunikasi, latihan dukungan dana untuk stabilisasi.

Dari nominal 53,2 dollar USA pada tahun 1963, 85,8 dollar USA tahun 1964, anjlok menjadi 15,0 dollar USA pada tahun 1965. Pengurangan bantuan itu bentuk tekanan Pemerintah Paman Sam terhadap Indonesia. Meski begitu, Amerika tetap khawatir pengurangan bantuan justru menjadikan Indonesia semakin merapat ke Uni Soviet dan Cina. Amerika ketar-ketir Soekarno mengambil tindakan nekat menasionalisasi aset atau mengusir investasi asing, terutama properti minyak milik Amerika di Indonesia.

Njoto bersuara pelan. Kendati demikian masih bisa didengar. Di buku "Kitab Merah Kumpulan Kisah Kisah Tokoh G 30 S PKI", sebelum angkat bicara Njoto mengeluarkan secarik kertas berisi tulisan tangan.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya