Kisah Njoto, Tokoh PKI yang Masih Hadir dalam Rapat Kabinet Usai G30SPKI

Solichan Arif, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 06:11 WIB
Share :

Sebab dia tidak ingin menarik perhatian. "Mengapa mesti takut, Pak?". Oei merespon teguran Bung Karno. "Ya sudah, ngomong-ngomong lah". Bung Karno meminta Oei mengajak ngobrol Njoto seperti biasa.

"Bung Njoto, ini sebenarnya bagaimana sih, kok jadi tidak karuan". Oei membuka percakapan. Dia meminta penjelasan ikhwal peristiwa 30 September 1965.

"Aduh," ucap Njoto sembari menggeleng-gelengkan kepala. Suaranya lirih. "Kacau, semua kacau. Kok sampai begini jadinya". Keluh Njoto kepada Oei dengan volume pelan.

Njoto seperti orang kehilangan harapan. Njoto adalah tulang punggung PKI. Bersama DN Aidit dan Lukman, ketiganya kerap dijuluki triumvirat. Bila Aidit memikul tanggung jawab politik partai secara umum, dan Lukman diserahi urusan Front Persatuan, Njoto lah yang mengemban tugas agitasi dan propaganda.

Redup bersinarnya PKI bergantung hasil "gorengannya". Di tangan ketiga pemuda revolusioner ini PKI terbukti moncer kembali. PKI yang remuk di tahun 1948, berhasil bangkit. Bahkan menempati urutan empat besar peraupan suara pada pemilu 1955.

"PKI memiliki 3.000.000 anggota setia dan militan. Semuanya tersebar di seluruh Indonesia. Banyak di antaranya dilatih sebagai sukarelawan," tulis Atmadji Sumarkidjo dalam buku Mendung Diatas Istana Merdeka.

Besarnya kekuatan massa yang dimiliki membuat kepercayaan diri para elit partai berlambang palu arit berlipat. PKI berniat mengikuti jejak pertahanan komunis Cina (RRC). Yaitu mengorganisir milisia. Dalam laporan buku "Menyingkap Kabut Halim 1965", DN Aidit meminta Bung Karno membentuk angkatan ke V.

Seperti laiknya tentara, PKI ingin kaum buruh dan tani juga memanggul senjata. Permintaan itu menjadi polemik di lingkungan militer, terutama Angkatan Darat yang terang terangan menolak keras.

Dan angin politik pun berubah. Sebuah operasi militer yang dilancarkan pagi buta (30 September 1965) memporak-porandakan segalanya. Tujuh jenderal Angkatan Darat diculik. Sebelum dicemplungkan ke sumur lubang buaya beberapa di antaranya dihabisi dengan tembakan bedil.

PKI pun tertuduh sebagai dalang dibalik gerakan kudeta. Semua ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Republik ini. Bahkan orang yang paling awam politik sekalipun ingin mengetahuinya. Dalam sidang kabinet Waperdam II Dr Leimena angkat bicara.

"Kita kini sebenarnya sudah masuk perangkap Nekolim, yakni Let Indonesian fight Indonesian". Perangkap yang menggiring orang Indonesia melawan sesama orang Indonesia. Ya, perang saudara. Peristiwa 30 September 1965, kata Leimena adalah ulah Nekolim.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya