Pada 1966, istri Jenderal Yani membeli rumah di seberang rumah lama mereka. Dari situ, Yayuk sering melihat para tahanan PKI yang dibawa para personel CPM (Corps Polisi Militer) untuk sekadar bersih-bersih di rumah lama mereka yang kini, difungsikan sebagai Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani.
“Dulu tahanan PKI setiap beberapa hari seminggu, naik mobil penjara ke rumah (lama) kita. Mereka di sana membersihkan rumput dan halaman sekitar,” ujar Amelia kepada Okezone beberapa waktu lalu.
“Tapi ibu kemudian mengambilkan banyak piring. Diambilkan nasi dan teh manis. Disuruh makan dulu. CPM juga dikasih makan. Para tahanan itu makan dengan lahap meski sedikit masih takut-takut sama CPM. Dari situ saya tahu bahwa ibu sebenarnya sudah memaafkan. Sudah menjalankan rekonsiliasi,” sambungnya.
Selain pada para tahanan PKI, perhatian istri Jenderal Yani itu juga diberikan pada salah satu kolega dekat Jenderal Yani, yakni Mayjen Pranoto Reksosamudro.
Jenderal Pranoto sempat ditahan di Penjara Blok P, Kebayoran Baru, lantaran Asisten III Menpangad bidang Personalia itu, turut dituduh terlibat G30S.
“Ibu juga sering membawakan makanan buat Pak Pranoto ke tahanan. Kata ibu, mesakke (kasihan). Anaknya juga disenangkan sama Ibu. Ibu berusaha anak-anaknya (Pranoto) tak ikut menderita,” tutup Amelia.
(Awaludin)