JAKARTA - Soekarno memiliki keinginan untuk mempunyai anak laki-laki keturunannya. Tetapi, Inggit yang pada saat itu tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Padahal suaminya sangat menginginkan anak laki-laki.
Inggit tidak ingin dimadu oleh Soekarno, sehingga ia meminta ceria secara langsung pada malam hari itu. Soekarno sendiri tidak menginginkan perceraian, ia ingin menempatkan kedudukan Inggit di posisi paling atas. Tetapi hal tersebut berbanding terbalik dengan Inggit.
(Baca juga: Inggit tentang Soekarno yang Pulang Membawa Lelah: Anak Kecil yang Ingin Dimanja)
Rumah tangga mereka setelah perbincangan malam hari itu menjadi semakin hambar. Ditambah anak mereka, Ratna Djuami menetap di Yogyakarta untuk sekolah di Taman Siswa. Soekarno mencoba mengalihkan kekalutan yang ia rasakan dengan menyibukkan diri mengajar.
Tidak hanya mengajar, Soekarno juga mengorganisasi seminar Alim Ulama Antar-Pulau Sumatera-Jawa dan berhasil mengemukakan tentang modernisasi Islam.
Sekitar tahun 1941 Soekarno menikahkan Ratna Djuami dengan Asmara Hadi. pada saat itu ia menceritakan permasalahannya dengan sang istri, “Aku ini hanya seorang manusia. Aku ingin kawin lagi. Bagaimana pendapat kalian berdua?” tanya Soekarno dalam buku Soekarno Fatmawati.
Asmara Hadi menjawab pada buku Soekarno Fatmawati, "Secara pribadi saya setuju dengan Bapak. Saya menilai Bapak sama dengan Napoleon dan para pemimpin besar lainnya dalam sejarah yang saya baca. Mereka secara fisik sangat kuat. Tetapi, dilihat dari segi politik hal ini tidak baik. Sungguhpun Bapak diasingkan jauh semenjak tahun 1934, Bapak tetap menjadi lambang kami, Rakyat mendoakan agar Bapak segera bangkit dan memimpin mereka kembali. Dan rakyat tahu dari tulisan-tulisan Bapak, bahwa waktunya sudah dekat. Apa kata rakyat nanti kalau Bapak sekarang menceraikan ibu Inggit di waktu dia sudah tua dan yang setia mendampingi bapak selama masa penjara dan
pembuangan? Bagaimana jadinya nanti?"