Laskar Hizbullah Malang yang dikomandoi KH. Masjkur dan Mayjen Imam Soedja'i pun terus mundur karena terdesak oleh pasukan sekutu, hingga daerah Waru, Sidoarjo, dan terus ke selatan. Pasukan akhirnya tiba di Porong, dan mendapat bantuan dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) yang berangkat dari Malang.
"Pasukan TRIP dari Malang ini membantu ke Surabaya tapi sampai ke Porong saja, karena pasukan Hizbullah dan TKR tadi itu mundur. Akhirnya membuat pertahanan di daerah Porong. Di situlah akhirnya dibantu oleh TRIP melakukan perlawanan lagi, untuk bisa mempertahankan Malang, karena mereka akan mikir setelah ini Malang yang kena, makanya dipertahankan di daerah Porong," bebernya.
Agung mengaku sedikit mengetahui perjuangan Laskar Hizbullah Malang besutan KH. Masjkur dan Mayjen Imam Soedja'i karena mendapat cerita dari kakek buyutnya yang juga turut menjadi anggota pasukan Hizbullah. Sang kakek bahkan turut dilatih tentara Jepang dan PETA di Cibarusa, yang kini masuk daerah Bekasi.
"Ternyata kakek saya ini tidak sendirian, jumlahnya 500 orang, latihan bergelombang, kakek saya yang gelombang pertama yang dilatih di Cibarusah, yang melatih tentara PETA dan Jepang, dikasih keterampilan bertempur," terangnya.
Dari 500 orang itu satu di antaranya adalah KH. Masjkur asal Singosari, Malang, yang kemudian membuat pasukan Hizbullah dan laskar-laskar lebih kecil lagi di Malang dan sekitarnya. Dari laskar-laskar inilah kiai dan santri melakukan perlawanan ke tentara sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
(Angkasa Yudhistira)