Impian Manusia Membangun Peradaban di Luar Angkasa, Apakah Akan Terwujud?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Sabtu 17 Desember 2022 05:08 WIB
Peradaban luar angkasa visi Gerard O'Neill. (Foto: NASA AMES RESEARCH CENTER)
Share :

Akan tetapi, seperti yang kemudian ditekankan oleh Moynihan, visi ini bukanlah visi kapitalis. Pada 1902, mentor Tsiolkovsky, Nikolai Fedorov mengatakan khawatir "para hartawan akan 'menginfeksi' planet-planet lain dengan eksploitasi mereka yang ekstraktif."

Sementara itu di negara Barat, visi sekuler penaklukkan galaksi juga mulai muncul.

Sosok berpengaruh lain adalah seorang insinyur Amerika bernama Robert Goddard, yang menciptakan roket berbahan bakar cair pertama di dunia.

Pada 1918, dia menulis sebuah esai yang terkenal berjudul, "Migrasi Akhir: Sebuah Catatan untuk Kaum Optimis" yang disebarkannya kepada teman-temannya.

"Di situ dia menulis, kalau kita bisa membuka misteri atom, kita bisa mengirim manusia ke luar sistem Tata Surya," ujar Moynihan.

Goddard membayangkan sebuah ekspedisi yang dapat membawa semua pengetahuan manusia, sehingga, dalam kata-katanya, "peradaban baru dapat dimulai sementara yang lama berakhir".

Dan jika itu tidak mungkin, dia mengusulkan ide radikal untuk meluncurkan "protoplasma", yang pada akhirnya bisa melahirkan manusia baru di dunia yang jauh.

Semua ini membuahkan gagasan bahwa jika manusia bisa bermukim di Bima Sakti, umat manusia bisa bertahan hingga triliunan tahun, kata Moynihan. Dan dengan berbagai cara, keyakinan ini telah mendasari visi permukiman galaksi — termasuk milik Bezos, dan miliarder luar angkasa lain, Elon Musk.

Saat remaja, Bezos membingkai ambisinya sebagai jalan menuju energi dan sumber daya tak terbatas yang tidak mungkin tercapai jika kita tetap tinggal di Bumi. Dan tak banyak yang berubah. Dia memandang ide permukiman di angkasa luar sebagai jalan untuk menyelamatkan spesies kita dari kehausan tak terpuaskan akan pertumbuhan dan sumber daya.

Jika semua terserah Bezos, maka umat manusia akan memindahkan semua polusi dan industri berat ke luar planet, dan dalam jangka panjang, manusia sendiri akan mulai bermukim di silinder-silinder O'Neill.

Dia mengakui bahwa dia tidak akan menciptakan masa depan itu, namun memandang dirinya sebagai "pembuka jalan", menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan generasi mendatang untuk membangunnya.

Musk lebih terus terang tentang risiko kepunahan dan beranggapan jika kita menjadi peradaban yang tinggal di multi-planet — di Mars, khususnya — maka bencana di Bumi tidak akan memusnahkan seluruh spesies kita.

Hartawan pemilik SpaceX ini bersemangat untuk menghindari gagasan "Penyaring Besar" atau "Great Filter", sebuah paradoks yang mengatakan bahwa semua peradaban di alam semesta menghadapi titik batas dalam evolusi mereka, dan pada akhirnya akan memusnahkan mereka.

Musk berharap umat manusia bisa menjadi spesies pertama di galaksi yang bisa melampaui titik tersebut.

Meski begitu Moynihan menekankan bahwa argumen "pergi ke luar angkasa, selamatkan umat manusia" tak sekuat yang diperlihatkan para miliarder, terutama saat ini.

Abad ini, kita menghadapi segudang ancaman eksistensial yang tidak terlokalisasi dan dapat dengan mudah menyebar, dari pandemi hingga kecerdasan buatan. Ancaman-ancaman ini bisa saja mencapai luar Bumi.

"Terburu-buru menjadi penduduk multi-planet mungkin tidak bisa mencegah hal-hal buruk terjadi," kata Moynihan. "Dalam jangka pendek, memunculkan diskusi internasional tentang isu terkait risiko-risiko ekstrem mungkin lebih hemat ketimbang pindah ke Mars."

Dan bagaimana dengan perubahan iklim? Meski ini mungkin tak memicu risiko eksistensial, perubahan iklim sudah pasti akan membawa penderitaan bagi miliaran orang dalam waktu dekat — dan tidak ada proyek turisme luar angkasa atau permukiman galaksi di masa depan yang bisa menghindarkan kita dari dampak perubahan iklim saat ini.

Di tengah banjir, kebakaran lahan, dan gelombang panas yang melanda Bumi, banyak kritik ditujukan pada era perjalanan luar angkasa para miliarder. Berdasarkan tingkat keparahan masalah yang kita hadapi sekarang, beberapa orang seharusnya meninggalkan cita-cita permukiman galaksi — setidaknya dalam jangka pendek.

Sentimen ini salah satunya muncul dalam esai oleh penulis fiksi ilmiah Sim Kern, yang mengatakan, luar angkasa mungkin menawarkan ide memikat tentang memulai dari awal, tapi kenyataannya, "kita tidak bisa meninggalkan kekacauan ini, tak peduli sejauh apapun kita pergi".

Dan bagaimanapun, tulis Kern, kita sudah punya permukiman di dalam orbit yang cukup baik.

"Tempat itu sangat besar, cukup besar untuk menampung semua teman dan keluarga kita. Ada gravitasi yang bagus dan pelindung radiasi dalam bentuk atmosfer yang bisa dihirup. Ada energi terbarukan yang tak terhingga — Matahari — yang akan bertahan setidaknya semiliar tahun lagi sebelum dia menjadi terlalu panas dan terbakar.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya