Impian Manusia Membangun Peradaban di Luar Angkasa, Apakah Akan Terwujud?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Sabtu 17 Desember 2022 05:08 WIB
Peradaban luar angkasa visi Gerard O'Neill. (Foto: NASA AMES RESEARCH CENTER)
Share :

"Pesawat luar angkasa kita dihuni oleh lebih dari delapan juta bentuk kehidupan asing berbeda yang bisa kita pelajari, yang perilaku dan bahasanya baru sedikit kita pahami. Teman-teman berbeda spesies ini memberikan kita udara, makanan, obat-obatan, penyaring air — beberapa bahkan bernyanyi untuk kita, memberi wangi pada udara kita, dan membuat 'kapal' kita sangat indah."

Jika saja seluruh keturunan kita di masa depan menyetujui, maka kita bisa sampai pada "Skenario Bullerby", gagasan yang namanya diambil dari kehidupan pedesaan Swedia yang indah dalam buku anak-anak karangan Astrid Lindgren.

Skenario ini membayangkan umat manusia akhirnya memutuskan untuk mengabaikan luar angkasa dan alih-alih, fokus kepada Bumi. Membangun peradaban yang mapan dengan energi hijau, pertanian berkelanjutan, dan sebagainya.

Bagaimana dengan tujuan jangka panjang? Jika kita bicara tentang ratusan dan ribuan tahun, maka migrasi ke Tata Surya dan Bima Sakti bisa dipikirkan secara lebih serius sebagai argumen untuk memastikan masa depan umat manusia.

Bahkan mereka yang tidak setuju proyek ini dimulai sekarang tidak akan membenarkan penundaan itu dilakukan sampai peradaban manusia hampir runtuh — ini akan menjadi bencana yang tak terbayangkan.

Rata-rata spesies mamalia memiliki masa hidup 1 juta tahun, yang mengisyaratkan bahwa suatu saat kepunahan akan terjadi pada manusia bila kita tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya.

Bencana yang bisa menghapuskan keberadaan manusia bisa terjadi jauh di masa depan. Tapi tak seperti binatang lain, manusia memiliki kecerdasan yang maju, sehingga banyak peneliti meyakini bahwa mengambil jalur "astronomis" di luar Bumi menjanjikan masa depan yang lebih lama bagi spesies kita. Jika kita memiliki permukiman di seluruh galaksi, umat manusia akan menjadi jauh lebih kuat.

"Saya lebih suka tidak menyimpan semua telur di keranjang yang rapuh," kata Anders Sandberg, dari Universitas Oxford. "Koloni luar angkasa jauh lebih rapuh ketimbang planet-planet, dan rentan, tetapi Anda bisa membangun lebih banyak," ujarnya.

"Jika kita sudah berhasil membangun koloni yang besar, maka Anda pasti bisa membangun lebih banyak koloni kecil. Dan pada titik ini, Anda sepertinya bisa mengurangi risiko."

Moynihan sepakat. "Benar, untuk umat manusia memenuhi potensi jangka terpanjangnya, kita harus merambah luar angkasa," tulisnya. "Bumi pada akhirnya akan tidak bisa ditinggali jika Matahari menua. Tapi Semesta luas akan tetap bisa menopang kehidupan — beribu-ribu tahun lagi"

Permasalahannya, bahkan di masa depan yang jauh, akan tetap ada alasan untuk tak memulai proyek kolonisasi galaksi. Akan selalu ada masalah yang lebih mendesak untuk diselesaikan di Bumi.

"Menjadi multi-planet adalah hal yang visioner di masa depan, tapi itu tidak akan pernah menjadi hal yang rasional untuk dilakukan," ungkap Sandberg.

Namun, dia mengutip filsuf George Bernard Shaw yang pernah berkata, "Semua kemajuan bergantung pada orang-orang yang tidak masuk akal".

"Mungkin yang dilakukan Bezos dan Musk tidak masuk akal, tapi bisa jadi itu tetap merupakan hal yang baik," ujar dia.

Apapun yang Anda pikirkan tentang generasi miliarder saat ini — prioritas mereka, kepribadian mereka, kekayaan mereka, sikap mereka terhadap ketimpangan karena perubahan iklim, atau perlakuan mereka kepada para pekerjanya — tidak bisa dimungkiri bahwa mereka telah membuat kemajuan signifikan dalam hal perjalanan ke luar angkasa dalam waktu singkat.

Apakah kiprah mereka seharusnya dilakukan oleh generasi di masa depan? Mungkin, tapi tak berarti kontribusi mereka sekarang tak berarti.

Sandberg mengingat percakapannya dengan Musk, jauh sebelum SpaceX mengirimkan roket pulang pergi ke angkasa, saat Musk mengunjungi dia dan rekan-rekannya di Institut Future of Humanity di Universitas Oxford.

"Dia menggambar sesuatu di atas serbet kertas di Grand Cafe Oxford, menerangkan kepada saya bahwa dia bisa membuat roket yang jauh lebih murah daripada yang dibuat NASA," Sandberg mengingat. "Saya hanya mengangguk dan berkata, 'Saya harap Anda benar'. Ya, dia telah membuktikannya."

Namun Sandberg mengingatkan, jika umat manusia pada akhirnya membangun peradaban galaksi untuk menyelamatkan masa depannya sendiri, peradaban itu tak perlu dibangun menurut ambisi dan keinginan satu atau dua miliarder di abad 21.

"Jika kita tidak mau luar angkasa ditentukan oleh visi beberapa orang saja, maka kita harus membuat keinginan kita diketahui," ujarnya.

Di masa depan, proyek untuk menyebarkan peradaban manusia ke luar angkasa bisa menjadi proyek yang luas, ketimbang satu dua orang dari Silicon Valley. Peradaban galaksi mungkin, pada akhirnya, bisa terjadi. Mimpi Bezos akan silinder O'Neill mungkin akan menjadi kenyataan.

Mungkin itu bisa menyelamatkan spesies kita. Tapi di mana pun kita berakhir, masa depan akan diukir oleh orang-orang yang tinggal di Bima Sakti, dengan prioritas dan keinginannya sendiri — yang hidup jauh setelah orang-orang kaya di abad ke-21 telah lama pergi.

(Qur'anul Hidayat)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya