KONON kekalahan terbesar Pangeran Diponegoro saat perang akibat godaan perempuan muda cantik beretnis Tionghoa, yang bukan istri dan bukan pula selirnya. Perempuan itu merupakan tawanan perang di Kedaren, yang kemudian ia jadikan tukang pijatnya.
Peter Carey pada bukunya "Takdir Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" mengisahkan bagaimana kehidupan keluarga sang pangeran yang begitu dinamis. Di Tegalrejo ia mempunyai empat orang istri dan beberapa selir atau istri tidak resmi.
Bahkan salah seorang selirnya yang terakhir cukup cantik jelita sempat memancing mata keranjang Asisten Residen Belanda untuk Yogyakarta P. F. H. Chevallier, yang memang suka main perempuan.