Dalam video berikutnya yang diunggah ke media sosial, Pvaone mengatakan bahwa "perang" terhadap aborsi akan terus berlanjut. Dia juga menuduh Gereja Katolik "membatalkan budaya".
Di antara mereka yang mendukung Pavone adalah Joseph Strickland, Uskup keuskupan Tyler, Texas.
"Pejabat Vatikan mempromosikan amoralitas dan penolakan keimanan n dan para pastor mempromosikan kebingungan gender yang menghancurkan kehidupan, itu kejahatan," tulisnya.
Pada 2016, Pavone, yang mengepalai kelompok anti-aborsi Priests for Life, meletakkan janin yang diaborsi di atas altar dan menyiarkannya secara online.
Pemecatannya tidak dapat diajukan banding. Pemecatan yakni proses direduksi menjadi 'keadaan awam' di mana status klerikal diambil dari seorang imam menjadi salah satu sanksi paling keras yang tersedia dalam hukum kanon gereja Katolik.
Sebagai informasi, Pavone telah menjadi aktivis anti-aborsi dan pro-Trump yang blak-blakan selama lebih dari satu dekade, mengatur panggung untuk bentrokan berulang kali dengan pejabat gereja di berbagai keuskupan. Dia sering mengomentari politik AS melalui platform media sosialnya.
Sebagai contoh, setelah pemilu 2020, keuskupan mengutuk penggunaan media sosial (medsos) oleh Pavone untuk mempertanyakan hasil pemilu 2020 yang kalah dari Trump, dengan mengatakan bahwa posisi politiknya tidak konsisten dengan ajaran Katolik.
(Susi Susanti)