JAKARTA - Menjadi pemegang tongkat komando tertinggi Kopassus tak membuat seorang Brigjen TNI Iwan Setiawan merasa asing. Ia mengaku seperti kembali ke rumah.
Abituren (lulusan) Akademi Militer 1992 ini memang mengawali karier militer di kecabangan infanteri Kopassus. Sebagian besar pengabdiannya juga berada di pasukan elite yang disegani dunia ini.
Di Korps Baret Merah pula tentara kelahiran Bandung, 16 Februari 1968 ini punya pengalaman dahsyat dan tidak akan terlupakan sepanjang hidup.
Iwan pernah berada di posisi antara hidup dan mati. Kekuatan doa dan tekad sekuat baja lah yang akhirnya membawa mantan Danyon 22/Grup 2 Kopassus ini mengukir sejarah gilang-gemilang. Kisah itu terjadi pada 1997.
Danjen Kopassus kala itu Brigjen TNI Prabowo Subianto menggagas Ekpedisi Kopassus-Indonesia Everest 1997. Ekpedisi kelas dunia ini untuk merayakan hari jadi ke-45 Kopassus dan menyambut HUT Kemerdekaan RI.
Ekpedisi juga melibatkan para pendaki terbaik Indonesia baik dari Kopassus maupun organisasi pencinta alam seperti Wanadri, hingga Mapala UI serta Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Bertindak sebgai komandan lapangan yakni mendiang Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo.
Iwan menceritakan ketika itu dirinya baru lulus pendidikan komando. Tak berselang lama diumumkan adanya seleksi Tim Ekspedisi Everest 97. Bagi prajurit Kopassus, tugas merupakan kehormatan segala-galanya. Dia pun mengikuti seleksi.
“Alhamdulillah, saya menjadi salah satu perwira Akmil yang lolos dan lulus untuk ikut ekspedisi pendakian ini,” kata Iwan berkisah kepada tim Dispenad yang diunggah di akun YouTube resmi TNI AD belum lama ini.
Iwan sadar terlibat Ekspedisi Everest sama dengan bertaruh nyawa. Fakta mencatat tidak semua orang yang mencoba menggapai puncak tertinggi dunia itu sukses. Bahkan mantan Danpusdikpassus ini mengibaratkan dari 100 pendaki yang naik ke Atap Dunia tersebut kemungkinan hanya 10 yang berhasil.
“Dari 10 orang tersebut, kemungkinan tiga orang yang selamat,” ucapnya.
Antara Hidup dan Mati di Himalaya Ada cerita tersendiri sebelum keberangkatan ke gunung setinggi 8.884 meter dari permukaan laut itu. Iwan meminta izin Prabowo untuk menyunting pujaan hatinya, Betty Siti Supartini.
Waktu berjalan. Berbagai persiapan menuju ekpedisi itu terus dilakukan. Betty turut mengenang, keberangkatan sang suami merupakan saat-saat berat dan mendebarkan.