Kontak tembak langsung terjadi. Posisi Soegito yang agak di belakang, menyulitkannya untuk mendapatkan keterangan detail posisi musuh dari komandan regu atau komandan peleton. Tiba-tiba saja terlihat dua orang berlari dari balik pepohonan sambil membawa senjata. Reflek, Soegito langsung memberondongkan AK-47 ke arah dua laki-laki itu.
Mereka langsung roboh diterjang timah panas kaliber 7,62 milimeter. "Tampias Pak, tampias," ujar seorang bintara, yang maksudnya musuh jatuh karena tembakan.
Soegito lalu mendatangi korban yang katanya dari tembakan senjatanya, meski ia tidak terlalu yakin. Sambil berdiri di depan mayat itu, lama Soegito termangu, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benaknya berkecamuk, pikirannya menerawang tidak jelas, dan suara-suara halus bersahutan di batinnya saling berperang.
"Pertama kali saya bunuh orang meski saya tidak yakin betul apakah itu tembakan saya atau dari anggota yang lain," ujar Soegito.