DAVOS – Direktur Eksekutif Dana Global untuk penanggulangan AIDS, Tuberkulosis (TBC) dan Malaria, Peter Sands di Davos pada Senin (16/1/2023) mengatakan perubahan iklim meningkatkan infeksi malaria.
Sands mengatakan lonjakan infeksi malaria terjadi menyusul banjir baru-baru ini di Pakistan dan topan di Mozambik pada 2021.
"Setiap kali terjadi cuaca ekstrem, cukup umum terjadi lonjakan kasus malaria," katanya pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, dikutip Antara.
BACA JUGA: Pemerintah Tegaskan Kerjasama dengan Negara Lain Tetap Harus Tanggap Perubahan Iklim
Peningkatan kejadian cuaca ekstrem yang memicu munculnya banyak genangan air semakin mempercepat perkembangbiakan nyamuk. Hal itu membuat populasi warga yang lebih miskin menjadi lebih rentan.
BACA JUGA: Lembaga Prakiraan Cuaca: 2023 Akan Jadi Tahun Terpanas, Kekeringan Bakal Sering Terjadi
Dia mengatakan perubahan iklim juga mengubah geografi nyamuk.
Dataran tinggi Afrika, di Kenya dan Ethiopia, saat ini dilanda malaria karena pergeseran dari suhu rendah yang sempat membuat banyak nyamuk sulit berkembang biak.
Sands mengelola badan dana global terbesar di dunia, yang berinvestasi dalam penanggulangan tuberkulosis, malaria dan HIV/AIDS di beberapa negara termiskin di dunia.
Badan tersebut, yang menetapkan target penggalangan sebesar USD18 miliar (sekitar Rp272,7 triliun), hanya berhasil mengumpulkan USD15,7 miliar (sekitar Rp237,8 triliun) sejauh ini. Itu merupakan jumlah uang terbesar yang pernah terkumpul untuk dana kesehatan global.
Dia menyayangkan berkurangnya nilai dana sebesar satu miliar dolar AS akibat fluktuasi mata uang yang mempengaruhi jumlah donasi.
Ke depan, perubahan iklim hanyalah salah satu faktor yang dapat menghambat upaya untuk memberantas penyakit-penyakit tersebut, kata Sands.
Perang di Ukraina telah memperburuk kondisi akibat penyakit AIDS dan tuberkulosis.
Di negara berpenghasilan menengah seperti India, Pakistan, dan Indonesia, kasus tuberkulosis di kalangan penduduk termiskin juga meningkat.
Dengan meningkatnya kekhawatiran atas resesi global, Sands mengatakan negara-negara tersebut akan semakin tertekan.
"Saya pikir perhatian besar dari perspektif kami adalah apa yang terjadi pada anggaran kesehatan di sekitar 120 negara yang kami investasikan," katanya.
"Dan bahkan dalam anggaran kesehatan itu, berapa banyak yang diambil untuk Covid-19?," lanjutnya.
(Susi Susanti)