Badan tersebut, yang menetapkan target penggalangan sebesar USD18 miliar (sekitar Rp272,7 triliun), hanya berhasil mengumpulkan USD15,7 miliar (sekitar Rp237,8 triliun) sejauh ini. Itu merupakan jumlah uang terbesar yang pernah terkumpul untuk dana kesehatan global.
Dia menyayangkan berkurangnya nilai dana sebesar satu miliar dolar AS akibat fluktuasi mata uang yang mempengaruhi jumlah donasi.
Ke depan, perubahan iklim hanyalah salah satu faktor yang dapat menghambat upaya untuk memberantas penyakit-penyakit tersebut, kata Sands.
Perang di Ukraina telah memperburuk kondisi akibat penyakit AIDS dan tuberkulosis.
Di negara berpenghasilan menengah seperti India, Pakistan, dan Indonesia, kasus tuberkulosis di kalangan penduduk termiskin juga meningkat.
Dengan meningkatnya kekhawatiran atas resesi global, Sands mengatakan negara-negara tersebut akan semakin tertekan.
"Saya pikir perhatian besar dari perspektif kami adalah apa yang terjadi pada anggaran kesehatan di sekitar 120 negara yang kami investasikan," katanya.
"Dan bahkan dalam anggaran kesehatan itu, berapa banyak yang diambil untuk Covid-19?," lanjutnya.
(Susi Susanti)