JAKARTA - Jenazah korban meninggal akibat gempa dahsyat magnitudo 7,8 mengguncang Turki selatan pada Senin (6/2/2023) ditinggalkan di jalan begitu saja saat perburuan korban selamat terus berlanjut.
Okezone merangkum 5 fakta soal gempa Turki. Berikut ulasannya:
1. 7 Ribu Warga Tewas
Lebih dari 7.000 orang diketahui tewas di Turki dan Suriah utara, yang juga hancur akibat gempa tersebut.
Gempa berkekuatan 7,8 Senin terjadi pada pukul 04:17 (01:17 GMT) di dekat kota Gaziantep.
Getaran selanjutnya hampir sama besarnya, dengan pusat gempa di distrik Elbistan di provinsi Kahramanmaras.
Baca juga: Bocah Laki-laki Ini Tersenyum Saat akan Diselamatkan Tim Penyelamat Pasca Gempa Turki
2. Korban Tewas Berserakan di Jalan
Di kota Antakya, beberapa korban tewas terbaring di trotoar selama berjam-jam saat petugas penyelamat dan ambulans berjuang mengatasi skala bencana.
Baca juga: Apa Itu HAARP? Proyek 'Senjata' AS yang Dituding Sebabkan Gempa Bumi di Turki dan Suriah
Anggota keluarga dari mereka yang hilang menyisir puing-puing mencari orang yang mereka cintai. Sekelompok pria menggunakan palu godam dan alat lainnya menemukan mayat seorang pria dan seorang gadis muda yang terjebak. Mereka memanggil penyelamat resmi untuk menggunakan alat-alat listrik mereka untuk membantu, tetapi mereka mengatakan mereka harus berkonsentrasi pada yang hidup.
Orang-orang itu terus menggali sampai mayat-mayat itu dibebaskan.
3. Bangunan Runtuh Berderet di Turki
Deretan bangunan telah runtuh menjadi tumpukan puing yang coba diatasi oleh tim penyelamat, sementara angin yang sangat dingin meniupkan
4. Korban Selamat Berburu Makanan
Para korban selamat yang sekarang hidup di jalanan harus berburu makanan dan membakar perabotan yang mereka temukan agar tetap hangat. Suhu diperkirakan turun di bawah titik beku akhir pekan ini.
Situasi serupa terjadi di kota pelabuhan Iskenderun, di mana kini para tunawisma berlindung di ruang terbuka jauh dari bangunan.
5. Kesaksian Korban Gempa Turki
Seorang wanita yang berbicara dengan BBC sedang berlindung dengan anak dan cucunya, termasuk seorang anak berusia enam tahun yang menderita epilepsi. Petugas bantuan telah membawakan mereka selimut dan mereka telah diberi roti tetapi belum ada dukungan lain sejauh ini.
"Saya sangat terpukul," kata seorang dokter di rumah sakit setempat kepada Reuters.
"Saya melihat jenazah di dalam, di mana-mana. Meskipun saya terbiasa melihat tubuh karena keahlian saya, itu juga sangat sulit bagi saya,” lanjutnya. asap dan debu dari puing-puing ke mata mereka.
(Fakhrizal Fakhri )