JAKARTA - Airlangga disebut menjadi raja yang kerap memerintahkan pendirian bangunan suci untuk beribadah. Tak heran memang ketika ia melarikan diri dari penyerangan sekutu Kerajaan Sriwijaya ketika Mataram Kuno masih ada ia memilih tinggal di hutan belantara dan menjadi pertapa.
Maka ketika Airlangga kembali diminta rakyatnya untuk turun gunung dan membangun kerajaan baru bernama Kerajaan Kahuripan, ia sangat memperhatikan kehidupan beragama. Sebagaimana dikisahkan pada "Airlangga Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI", dari Ninie Susanti, Raja Airlangga sangat memperhatikan dan memelihara kehidupan beragama yang majemuk, seperti bangunan suci yang banyak didirikan dan dipelihara dengan baik, serta pertapaan- pertapaan.
Walaupun agama yang banyak dianut oleh rakyatnya adalah Hindu dan Buddha, namun ia sangat menghargai keragaman aliran-aliran yang muncul. Ritus kehidupan keagamaan sangat ditekankan baik oleh dirinya maupun rakyatnya. Hal ini barangkali telah diawali dengan masa penempaan dirinya dalam tapa yang dilakukan.
Sejak awal keberadaannya di Jawa, yaitu sejak ia melarikan diri ke hutan setelah peristiwa Mahapralaya. Airlangga disebut hidup di pertapaan dan berpakaian seperti pertapa serta hidup seperti pertapa dan tak putus-putusnya melakukan pemujaan pada dewa.
Baca juga: Kala Putri Airlangga Menolak Jadi Raja dan Lebih Memilih Jadi Pertapa
Sebagian ahli berpendapat bahwa keberadaan Airlangga di pertapaan di hutan disebabkan karena ia melarikan diri dan menyamar supaya tidak diketahui oleh musuhnya. Namun, De Casparis tidak setuju dengan anggapan tersebut. Ia mengatakan bahwa masa tersebut lebih cocok dianggap sebagai "masa persiapan rohani" bagi Airlangga, yakni persiapan rohani untuk perjuangan yang akan dihadapinya untuk membangun kembali negaranya kembali.
Baca juga: Cikal Bakal Kediri, Berawal Pembagian Dua Kerajaan oleh Raja Airlangga