Pada masa itu Airlangga dan pengiringnya termasuk Narottama hidup sebagai pertapa dan mentaati segala kewajiban yang diberlakukan di situ. Prasasti Pucangan Sansekerta memakai istilah yakni berpakaian dari kulit pohon. Pada umumnya kewajiban-kewajiban di pertapaan meliputi yoga, yaitu latihan-latihan jasmani dan rohani untuk dapat mengatasi segala jenis hawa nafsu, rintangan dan memusatkan pikirannya semata- mata kepada cita-cita yang luhur.
Selain itu, Airlangga membuat perjanjian dengan sumpahnya bahwa akan terus mementingkan nilai- nilai rohani, apabila berhasil mengusir musuh dan mempersatukan kembali kerajaannya. Sebab itu, "masa persiapan rohani" ini sangat penting untuk memahami perilaku dan kebijakan Airlangga di kemudian hari setelah menjadi raja.
Sebagai contoh, setelah ia menjadi raja, setiap peristiwa penting seperti pemberian anugerah sima atau pemberian hadiah lainnya selalu melibatkan para pendeta yang ada sebagai saksi. Mereka disebutnya sebagai pendeta Siwa, Buddha, Rși dan Brahmana.
Di samping itu, Airlangga sangat menghargai aliran keagamaan lainnya, misalnya pemujaan terhadap Durga. Ia dengan segera menyetujui membangun pertapaan untuk Bhatari ketika Rakai Pangkaja Dyah Tumambong memohon kepadanya. Demikian pula setelah memutuskan untuk mundur dari tahta, ia merencanakan menjadi pendeta dan keluar dari istana.
Walaupun Schrieke berpendapat bahwa mundurnya seorang raja dengan alasan menjalani kehidupan agama bisa diartikan sebagai merosotnya wibawa, namun kemunduran tersebut harus diartikan sebagai langkahnya mengumpulkan kekuatan "kasekten" yang mulai memudar dalam dirinya.
(Fakhrizal Fakhri )