Di Tengah Kebimbangan, Sholat Istikharah Menuntun Subagyo Jadi Jenderal Kopassus

Cipto, Jurnalis
Kamis 23 Februari 2023 06:31 WIB
Subagyo Hadi Siswoyo saat menjadi Danjen Kopassus (Foto: Ist)
Share :

JAKARTA - Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo merupakan sosok yang pernah memimpin Korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus) baret merah. Bermula dari Sholat Istikharah, saran dari seorang tokoh agama.

Subagyo kelahiran Piyungan, Kabupaten Bantul pada 12 Juni 1946 yang berasal dari kalangan keluarga sederhana. Yakub Hadiswoyo, ayahnya juru penerang yang bekerja pada Djawatan Penerangan.

Sementara ibunya, Sukiyah Sukiyah berjualan di Pasar Piyungan. Mereka tinggal di rumah berdinding gedek atau anyaman bambu dengan lantai tanah.

Anak ketiga dari pasangan Yakub Hadiswoyo dan Sukiyah itu untuk membantu ekonomi keluarganya dan menambah uang saku, bersama kakaknya Sudiarto terpaksa bekerja sebagai buruh sunduk.

Pekerjaan yang dilakoni menusuk daun tembakau menjadi satu rangkain untuk dikeringkan ke dalam oven. Namun, kesibukannya dalam membantu perekonomian keluarga tak membuat Subagyo lalai dalam belajar demi mewujudkan impiannya menjadi tentara.

Di jenjang SMA, Subagyo melanjutkan pendidikannya di SMA Bokpri 1 Yogyakarta. Sekolah tersebut didirikan pada zaman Hindia Belanda yang awalnya digunakan untuk Christeljk Mulo.

Pada zaman Jepang diubah fungsinya menjadi tangsi militer. Seiring waktu berjalan, bangunan tersebut kemudian digunakan sebagai Akademi Militer yakni, pusat pendidikan militer.

Saat Akademi Militer pindah ke Magelang pada 1957, bangunan tersebut digunakan sebagai sekolah. Subagyo kerap melihat taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) yang gagah saat mengenakan seragamnya selama pendidikan di sekolah tersebut.

Tekad Subagyo pun semakin kuat untuk menjadi tentara. Ditambah, kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan membuat Subagyo tidak pernah bermimpi melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

”Pikir saya dulu, kalau jadi tentara maka akan terlihat gagah. Itu betul ada pemikiran seperti itu. Sederhana sekali memang. Tapi karena saya orang desa, pemikirannya memang demikian,” kenang Subagyo HS dalam buku biografinya berjudul “Subagyo HS, Kasad di Bawah Tiga Presiden”.

Selepas taman SMA, Subagyo mendaftar ke Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Akademi Angkatan Udara (AAU). Namun, saat sedang menyiapkan berkas untuk mendaftar ke AAU, ayahnya meminta Subagyo untuk mendaftar juga di Akademi Angkatan Darat (AAD).

“Mbok nyobo-nyobo daftar Akmil…ra’lamarane isih ono toh? (Coba-coba daftar di AKABRI, lamarannya masih ada kan?) tanya ayahnya kepada Subagyo.

Subagyo kemudian mengikuti saran dari orang tuanya tersebut tanpa banyak bertanya ke sang ayah. Sederet tes diikuti Subagyo hingga perjuangannya membuahkan hasil, yakni dinyatakan lulus tes di tingkat Kodam dan masuk dalam final test.

Subagyo dihadapkan pada dilema karena final test AAD atau Akmil di Bandung, Jawa Barat dan AAU di Yogyakarta dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Subagyo kemudian menemui salah seorang tokoh agama di tengah kebimbangannya itu.

Subagyo pun disarankan untuk melaksanakan Sholat Istikharah guna meminta petunjuk dari Allah SWT. Usai menunaikan Sholat Istikharah, Subagyo mendapatkan jawaban.

Subagyo kemudian mengonsultasikan petunjuk dalam Sholat Istikharah kepada tokoh agama tersebut. Dari situ, ia disarankan untuk memilih Angkatan Darat.

Tanpa banyak tanya, Subagyo menuruti saran yang diberikan kepadanya. Ia akhirnya berangkat mengikuti final test di Akmil, Bandung.

Sholat Istikharah membuatnya menentukan sikap dan pilihannya mengikuti test menjadi taruna AKABRI terbukti. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Utama Bidang Pertahanan No. Kep-08/1/1967 Tanggal 19 Januari 1967 Tentang Pengangkatan Calon Taruna AKABRI, Subagyo HS diterima menjadi taruna dengan menempati nomor urut 292 dari 1.093 taruna.

Subagyo selanjutnya mempersiapkan diri mengikuti pendidikan di kawah Candradimuka Akmil Magelang. Tak lupa dirinya meminta doa ke orangtua sebelum berangkat menuju Magelang.

Karier Subagyo Bersinar

Karier Subagyo dimulai dari Korps Baret Merah Kopassus yang saat itu bernama Kopassanda. Di awal tugasnya, Subagyo dikirim ke medan operasi di Kalimantan Barat untuk menumpas kelompok bersenjata PGRS/Paraku pada 1972.

Tugas itu dijalankan dengan sukses. Ia bertugas menjadi Danton 1 Kompi 2 Grup 2 Kopassus. Kemudian, Subagyo kemudian pindah ke Grup 3 Kopassus, Dan Karsa Yudha 2 Grup 4. Termasuk menjadi Dandenpur 13 Grup 1 Serang hingga menjadi Wadan Grup 2 Kartasura, Solo.

Subagyo yang berpangkat Kapten mendapat tugas operasi di Timor Timur (Timtim) sekarang bernama Timor Leste sebagai Komandan Nanggala 41 Pada Maret 1980. Kariernya kian melesat setelah berbagai tugas dilaksanakan dengan baik.

Subagyo pun menjadi salah satu prajurit Kopassus yang mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) saat Operasi Woyla di Bandara Don Mueang, Thailand pada 1981.

Seiring waktu, Subagyo dipercaya menjadi Komandan Satuan Pengamanan (Dansatpam) Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres). Dua tahun menjabat Dansatpam Palwapres Subagyo diangkat menjadi Komandan Grup A Paspampres.

Sembilan tahun betugas di lingkaran Istana Kepresidenan membuat Subagyo menjadi orang dekat Presiden Soeharto. Penugasannya itu memberikan sinar bagi karier di TNI karena selalu berdekatan dengan orang nomor satu di Tanah Air.

Subagyo dipindah menjadi Paban D-2 Bais pada 1993. Setahun bertugas, Subagyo diangkat menjadi Kepala Pengamanan dan Sandi Angkatan Darat (Kadispamsanad).

Pengangkatan tersebut membuat Subagyo menjadi satu-satunya lulusan Akmil 1970 yang menyandang pangkat jenderal. Subagyo kemudian dipercaya menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, padahal baru tiga bulan menyandang pangkat Brigjen TNI.

Setelah memimpin pasukan Korps Baret Merah, Subagyo selanjutnya diangkat menjadi Pangdam IV/Diponegoro. Pangkat Subagyo naik menjadi Mayor Jenderal (Mayjen) TNI.

Pengalamannya di medan operasi sebagai prajurit pasukan khusus memberikan pelajaran berharga saat menjalankan tugas teritorial. Subagyo berhasil meredam kerusuhan massa di Pekalongan. Subagyo juga berhasil menjaga kelancaran prosesi pemakaman Ibu Negara yakni, Ibu Tien Soeharto.

Lepas dari Kodam IV/Diponegoro, Subagyo diangkat menjadi Wakasad menggantikan FX Sudjasmin yang memasuki masa pensiun. Dirinya dilantik oleh KSAD Jenderal TNI Hartono pada Juni 1997 di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat.

Kariernya terus moncer, Subagyo langsung dipromosikan menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) setelah delapan bulan menduduki jabatan sebagai Wakasad.

Jabatan KSAD merupakan puncak tertinggi karier militer di Angkatan Darat. Kala itu, Subagyo menggantikan Jenderal TNI Wiranto yang diangkat menjadi Panglima TNI.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya