JAKARTA - Soekarno dan Inggit Ganarsih pada akhirnya memang tak sejalan lagi dan memutuskan untuk berpisah. Namun, jasa Inggit sebagai wanita yang menemani Bung Besar di awal-awal perjuangannya tak bisa dinafikan sejarah.
Roso Daras dalam buku ‘Sukarno Sejarah yang Tercecer’ menuliskan, ketika memutuskan berpisah, Bung Karno masih sempat mengantar Inggit ke dokter gigi pagi hari. Soekarno juga yang mengantar Inggit ke Bandung dan membawakan barang-barangnya tanpa kecuali.
“Dari sisi pergerakan, wanita yang selusin lebih tua usianya dari Bung Karno ini sangat fantastis. Ia tidak saja rela mengeluarkan hartanya buat pergerakan, tetapi ia juga rela berjualan jamu yang hasilnya disumbangkan bagi pergerakan. Bahkan, Inggit dengan lihainya menyelundupkan sandi-sandi intelijen melalui telur, Alquran, dll saat Bung Karno mendekam di penjara," tulis Roso Daras.
Baca juga: Saat Jenderal Soedirman Pernah Marah ke Soekarno Gara-gara Ogah Diajak Berperang
Bung Karno saat itu adalah anak kos dan Inggit adalah ibu kosnya di Bandung. Gejolak darah muda Sukarno, berpadu dengan ibu kos yang kesepian, mengalirkan getar cinta.
Sukarno lantas “mengembalikan” Utari, putri HOS Cokroaminoto yang dinikahinya secara “nikah gantung”. Di sisi lain, Inggit mengajukan permintaan cerai dari suaminya yang dikenal lebih gemar beraktivitas di luar rumah daripada diam di rumah.
Pernikahan Sukarno-Inggit di era perjuangan, sejatinya sangat penuh romantika dan dinamika. Hanya ada satu Inggit Garnasih di atas bumi ini. Dan satu-satunya Inggit itulah yang paling pas mendampingi Sukarno muda.
"Ia tahan gempuran gosip, gempuran cemooh, bahkan pelecehan polisi Belanda demi mengetahui dirinya adalah istri musuh nomor satu pemerintah Hindia Belanda, bernama Sukarno,” tulis Roso.
Inggit juga begitu tabah mendampingi Sukarno hidup di pengasingan, baik selama di Ende maupun Bengkulu. Selama mendampingi Sukarno, Inggit menjadi tulang punggung bagi jiwa Sukarno yang berkobar-kobar, jiwa Sukarno yang frustrasi, jiwa Sukarno yang melo, jiwa Sukarno yang gandrung kemerdekaan bagi bangsanya.
Hanya saat di Bengkulu, hati Soekarno tertambat pada gadis belia bernama Fatmawati. Itu adalah tahun-tahun 1940-an, menjelang akhir pendudukan Belanda dan dimulainya pendudukan Jepang.