Stop Pembantaian, Para Istri dan Ibu Minta Putin Berhenti Kirim Pria yang Dimobilisasi ke Perang Ukraina

Susi Susanti, Jurnalis
Senin 13 Maret 2023 09:49 WIB
Para istri dan ibu minta Presiden Rusia stop kirim pria ke medan perang (Foto: Telegram)
Share :

RUSIA – Sekelompok istri dan ibu di Rusia telah meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk berhenti mengirim suami dan anak laki-laki mereka "ke pembantaian" dengan memaksa mereka bergabung dengan kelompok penyerang di perang Rusia melawan Ukraina tanpa pelatihan atau persediaan yang memadai.

Dalam sebuah video yang dibagikan oleh saluran Telegram independen Rusia SOTA, para wanita tersebut mengatakan orang yang mereka cintai telah dipaksa untuk bergabung dengan kelompok penyerangan pada awal Maret lalu meskipun hanya menjalani pelatihan empat hari sejak mobilisasi mereka pada September tahun lalu.

Video tersebut memperlihatkan para wanita memegang tanda dalam bahasa Rusia yang bertuliskan, “580 Divisi Artileri Howitzer Terpisah,” tertanggal 11 Maret 2023.

“Suamiku berada di garis kontak dengan musuh,” kata seorang wanita dalam rekaman itu, dikutip CNN.

“[Orang-orang] kami yang dimobilisasi dikirim seperti anak domba ke pembantaian untuk menyerbu daerah berbenteng – lima orang sekaligus, melawan 100 orang musuh bersenjata lengkap,” lanjutnya.

“Mereka siap untuk melayani tanah air mereka tetapi sesuai dengan spesialisasi yang telah mereka latih, bukan sebagai stormtroopers. Kami meminta Anda menarik kembali orang-orang kami dari garis kontak dan memberikan artileri dan amunisi kepada para artileri,” ujarnya.

CNN tidak dapat memverifikasi secara independen klaim yang dibuat oleh kelompok wanita dalam video tersebut.

Langkah Rusia untuk mengirim ratusan ribu orang untuk berperang di medan perang Ukraina telah menimbulkan perbedaan pendapat dan protes serta mendorong banyak orang Rusia – khususnya pemuda – untuk meninggalkan negara itu.

“Kami melarikan diri dari Rusia karena kami ingin hidup,” kata seorang pria, yang meminta tidak disebutkan namanya untuk melindungi orang-orang terkasih yang ditinggalkan, kepada CNN.

“Kami khawatir kami akan dikirim ke Ukraina,” lanjutnya.

Keluarga pria Rusia yang direkrut telah mengkritik mobilisasi tersebut, dengan mengatakan hal itu dilanda masalah seperti masalah disiplin dan kurangnya kepemimpinan dari perwira menengah, pelatihan yang tidak ada serta kesulitan logistik seperti seragam yang tidak mencukupi, makanan yang buruk dan kurangnya persediaan peralatan medis.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya