Sasaran jangka menengah termasuk menentang kebijakan ekspansionis Rumania di Republik Moldova dan menentang kerja sama antara Republik Moldova dan NATO.
Dokumen FSB menjabarkan tujuan jangka panjang termasuk penciptaan pengaruh kelompok pro-Rusia yang stabil di elit politik dan ekonomi Moldova dan pembentukan sikap negatif terhadap NATO.
“Kami tidak tahu apa-apa tentang keberadaan rencana semacam itu. Saya tidak mengesampingkan bahwa ini adalah palsu lainnya. Rusia selalu dan tetap terbuka untuk membangun hubungan bertetangga yang baik dan saling menguntungkan, termasuk dengan Moldova,” terang juru bicara Kremlin Dmitry Peskov saat ditanya tentang dokumen tersebut pada Kamis (16/3/2023),
"Kami sangat menyesal bahwa kepemimpinan Moldova saat ini mengalami prasangka yang sepenuhnya tidak dapat dibenarkan dan tidak berdasar terhadap Moskow,” lanjutnya.
Rusia menuduh Ukraina berencana untuk menyerang dan mengambil alih Transnistria, yang berbatasan dengan Ukraina barat daya. Kementerian pertahanan Rusia mengatakan bulan lalu bahwa Ukraina sedang mengumpulkan senjata di beberapa desa perbatasan. Moldova dan Ukraina sama-sama menolak klaim tersebut.
Bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin membatalkan dekrit tahun 2012 yang mendukung kedaulatan Moldova, dengan mengatakan langkah itu untuk “memastikan kepentingan nasional Rusia sehubungan dengan perubahan besar yang terjadi dalam hubungan internasional.”