Namun, tidak lama dari itu, ayahanda dari Soekarno mengalami sakit. Fatmawati selaku menantu rela merawat mertuanya selama berbulan-bulan dengan tekun dan setia hingga mertuanya itu menghembuskan nafas terakhir pada 8 Mei 1945.
“Aku teringat buku cerita Si Tukang Kebun, yang kubaca pada umur 13 tahun. Ia menceritakan tentang bagaimana daun-daun kayu yang sudah coklat dan kering harus jatuh dan memberikan tempatnya kepada pucuk yang hijau dan baru,” ucap Soekarno.
Waktu itu, Soekarno tidak mengerti maknanya lebih dalam. Namun, 20 tahun kemudian ia mengerti bahwa setiap ada yang pergi, ada pula yang datang untuk menggantikan. Setelah kepergian suaminya, Nyoman Rai Simben kembali ke Blitar.
(Natalia Bulan)