STOCKHOLM - Aksi pembakaran Alquran di Swedia menuai kecaman dunia. Bahkan, sebelumnya polisi Swedia telah menolak memberikan izin kepada aktivis anti-Islam untuk membakar Alquran di depan kedutaan Turki di Stockholm.
Terkini, Pengadilan Swedia telah membatalkan keputusan polisi untuk melarang dua tindakan pembakaran Alquran yang dijadwalkan.
Berikut fakta-faktanya:
1. Keputusan Polisi Dibatalkan Pengadilan
Pengadilan Swedia beralasan bahwa masalah risiko keamanan tidak cukup untuk membatasi tindakan yang dianggap tidak pantas dan provokatif, terutama di kalangan Muslim dan orang beriman lainnya.
Pengadilan Swedia telah membatalkan keputusan polisi untuk melarang dua tindakan pembakaran Alquran yang dijadwalkan.
"Otoritas polisi tidak memiliki dukungan yang cukup untuk keputusannya," kata hakim Eva-Lotta Hedin dalam sebuah pernyataan pada Selasa 4 April 2023 merujuk pada protes yang direncanakan di luar kedutaan Turki dan Irak di Stockholm.
2. Sebanyak 51 Persen Warga Swedia Dukung Larangan Pembakaran Alquran
Pelarangan aksi pembakaran Alquran dan kitab suci lainnya sedianya mendapat dukungan 51 persen warga Swedia. Namun, hal itu tak menyurutkan pengadilan.
Jajak pendapat oleh perusahaan riset besar Sipo.mengungkap bahwa 34 persen responden mengatakan membakar kitab suci adalah kebebasan berbicara dan berekspresi, sementara 15 persen tidak berkomentar, demikian diwartakan TRT World.
Survei dilakukan pada 14-16 Maret dengan melibatkan 1.370 responden.
3. Rugikan Kas Negara
Penyiar publik SVT mengatakan insiden provokatif oleh politisi sayap kanan Denmark Rasmus Paludan terhadap kitab suci umat Islam telah merugikan kas negara sekira 88 juta krona Swedia (sekira Rp127 miliar).
4. Terorisme
Dalam perkembangan terpisah, dinas keamanan polisi Swedia mengatakan, pada Selasa bahwa pihaknya telah menahan lima orang yang dicurigai melakukan konspirasi untuk melakukan "kejahatan teroris", dalam kasus yang terkait dengan protes pembakaran Alquran di Stockholm tahun ini.
Para tersangka diyakini memiliki "hubungan internasional dengan kelompok teroris", kata Dinas Keamanan.
"Kasus saat ini adalah salah satu dari beberapa kasus yang ditangani Polisi Keamanan setelah protes yang diarahkan ke Swedia sehubungan dengan pembakaran Alquran yang dipublikasikan secara luas pada Januari," kata Dinas Keamanan dalam sebuah pernyataan.
5. Rasmus Paludan, Pembakar Alquran
Rasmus Paludan, pemimpin partai politik sayap kanan Denmark Stram Kurs, dikelilingi dan dilindungi oleh polisi, membakar Alquran di ibu kota Swedia, Stockholm, di depan Kedutaan Besar Turki pada Januari.
Tindakan tersebut telah dikecam oleh banyak negara Muslim, termasuk Turki dan berbagai LSM domestik dan internasional serta kelompok hak asasi manusia.
Insiden pembakaran Alquran di Swedia juga memperumit keputusan Swedia untuk bergabung dengan aliansi keamanan NATO, setelah Ankara menyatakan penentangannya terhadap keanggotaan dengan alasan masalah keamanan.
(Arief Setyadi )