JAKARTA – Banyak ulama dari Tanah Air yang pergi ke Makkah, Arab Saudi sejak abad ke-18. Lantaran perjalanannya begitu sulit, banyak yang setelah menunaikan Haji memilih untuk bermukim di Makkah.
Syekh Nawawi Al Bantani, salah satu ulama besar, penulis dan pendidik dari Banten yang memilih bermukim di Makkah.BACA JUGA:
Dalam buku Sayyid Ulama Hijaz yang merupakan biografi Syekh Nawawi Al Bantani diceritakan, keturunan Maulana Hasanudin, pendiri Kerajaan Islam Banten itu pergi ke Makkah pada usia 15 tahun dan bermukim di sana selama tiga tahun.
Syekh Nawawi Al Bantani berguru pada beberapa orang syekh yang bertempat tinggal di Masjidil Haram. Di antaranya, Syekh Ahmad Nahrawi, dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan.
Kemudian, di Madinah, ia belajar pada Syekh Muhamad Khatib al-Hambali. Syekh Nawawi Al Bantani sempat kembali ke Tanara, Banten selama tiga tahun, namun kembali ke Tanah Suci dan mengajar di Masjidil Haram.
Syekh Nawawi tampak istimewa sejak kecil. Ia mampu hafal Alquran pada usia 18 tahun. Berbagai cabang ilmu agama dikuasai, seperti tafsir, ilmu tauhid, fikih, akhlak, tarikh dan bahasa Arab.
Karya yang ditelurkan di dunia Islam juga tak sedikit. Bahkan, pemerintah Arab Saudi, Mesir dan Suriah, memberikan gelar kehormatan kepadanya Sayid Ulama Al-Hedjas, Mufti, dan Fakih.
Ada sekitar 115 buah kitab karya Syekh Nawawi. Sedangkan sumber lain menyebut 99 buah kitab dari berbagai disiplin ilmu.
Tokoh lainnya yang juga bermukim di Arab Saudi adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (1860-1916). Ia terkenal di Negeri Hijaz dan bermukim di Makkah selama 10 tahun. Kala itu, merangkap sebagai guru besar di Masjidil Haram.
Banyak buku yang ditulisnya. Di antara muridnya adalah KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Haji Abdul Karim Amarullah (ayah Buya Hamka), dan H Mahmud Ismail Djambek.
Kemudian, ada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812). Ia terkenal dengan karya bukunya fiqih Perukunan Melayu yang menjadi pegangan selama 200 tahun. Dirinya juga seorang tokoh ilmu fiqih, tasauf dan falak.
Syekh Muhammad Arsyad belajar pada Syekh Abdurahman al-Misri, seorang ulama Mesir yang mengajar di Jakarta. Al-Misri mengawini salah satu putera Syekh Djunaid al-Betawi. Ia wafat di Jakarta dan dimakamkan di Petamburan, Jakarta Barat.
Syekh Ahmad Ripangi (1786-1859) bermukim di Makkah selama delapan tahun. Pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah itu setelah kembali ke Indonesia tidak mau tunduk pada pemerintah kolonial Belanda yang dianggapnya sering merugikan umat Islam.
Hingga akhirnya gubernur jenderal Hindia Belanda pada 9 Mei 1859 mengasingkan dan memenjarakannya di Ambon. Dia dianggap membakar semangat nasional dengan azas Islam yang membahayakan pemerintah kolonial.
Dalam buku Biografi Ulama Nusantara: Syeikh Abdul Samad Al-Falimbani yang ditulis Hidayah al-Salikin, dikisahkan Syekh Abdul Somad al-Falimbangi di Makkah berguru pada Syekh Mohammad Saman.
Dirinya memiliki keahlian dalam bidang tauhid dan tasawuf. Di antara banyak tulisan hasil karyanya adalah Hidayat al Salihin.
Dalam salah satu bukunya, ia menganjurkan agar kaum Muslim Indonesia berjihad di jalan Allah melawan penjajah Belanda. Anjuran tersebut tertuang dalam dua suratnya, masing-masing untuk Hamengkubuwono I dan Pangeran Singasari.
Sementara itu, Budayawan Betawi, Alwi Shahab dalam tulisannya menyebutkan, ulama yang berasal dari Betawi bermukim di sana menggunakan Al Betawi sebagai nama keluarga.
Hal itu bagi para pemukim menjadi sebuah kebiasaan ketika menjadikan nama kota asalnya sebagai nama keluarga. Misalnya, Syech Abdul Somad al Falimbani dari Palembang, Syech Arsyad Albanjari dari Banjarmasin, Syech Basuni Imran al Sambasi dari Sambas, dan Syech Nawawi al Bantani dari Banten.
Syech Junaid, seorang ulama Betawi pada pertengahan abad ke-19 (1834) mulai bermukim di Makkah. Ia pun memakai nama al-Betawi.
Namanya mashur karena menjadi imam di Masjidil Haram. Syech Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram.
Ia memiliki banyak murid, bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syech kelahiran Pekojan, Jakarta Barat ini. Saat menginjak usia 100 tahun, Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840.
(Artikel ini pernah ditulis Doddy Handoko)
(Arief Setyadi )