“Oh zeker, zeker (Oh, tentu saja, tentu saja),” jawab Menhan yang hanya mengangguk tanpa menoleh ke Mayjen Didi, sebagaimana dikutip dari buku ‘Kolonel AE Kawilarang: Panglima Pejuang & Perintis Kopassus’.
Ucapan selamat pun dilayangkan sang komandan yang juga memanggil rekan-rekan Kawilarang, untuk turut diberikan pangkat Kapten seperti Kawilarang. Tapi sebelumnya, sang komandan lebih dulu bertanya.
“Dulu, kalian bertiga (Kawilarang, Kusno dan Mokoginta) bertiga satu kelas di KMA atau CORO (Corps Opleiding voor Reserve Officieren/Korps Pendidikan Perwira Cadangan Tentara Hindia Belanda)?” tanya Mayjen Didi.
“Bukan. Kusno di CORO, Mokoginta di KMA dan Kawilarang satu kelas lebih tinggi di KMA (dari Mokoginta),” jawab mereka yang lantas membuat Mayjen Didi kembali memanggil Kawilarang ke ruangannya.
“Jij was een klas hoger. Je wordt Majoor. Kom mee naar de Minister! (Kamu dulu sekelas lebih tinggi (di KMA dari Mokoginta). Kamu jadi Mayor. Mari ikut saya ke menteri (Amir Sjarifoeddin),” cetus Mayjen Didi.
Lalu kembalilah Mayjen Didi ke ruangan Menhan dan meminta restu Kawilarang dipromosikan pangkat (lagi). Permintaan itu pun dengan mudah diiyakan Menhan.
“Zeker, zeker. Ewl gefeliciteerd! (Tentu, tentu. Selamat!),” tutur Menhan. Maka jadilah Kawilarang dipromosikan pangkat Kapten dan kemudian Mayor hanya sekira selang 10 menit.
Lucu dan aneh memang, mengingat saat itu republik tengah diuji di masa revolusi fisik. Sebuah peristiwa langka yang mungkin takkan pernah terjadi lagi di lingkungan militer Indonesia.
(Nanda Aria)