Sepak Terjang John Lie, Hantu Selat Malaka yang Tiada Tara di Angkatan Laut

Arief Setyadi , Jurnalis
Rabu 14 Juni 2023 07:04 WIB
John Lie (Foto: Wikipedia)
Share :

JAKARTA - Laksamana Muda TNI John Lie dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma. Pengabdian Pahlawan Nasional kelahiran Manado, Sulawesi pada 9 Maret 1911 silam ini begitu besar.

Ia merupakan pria keturunan Tionghoa yang menyandang julukan Hantu Selat Malaka. Julukan ini John Lie peroleh selama bekerja di Selat Malaka sebagai kapten kapal laut bernama The Outlaw.

Saat itu, ia berhasil menyelundupkan banyak senjata yang ia peroleh untuk melawan penjajah. Sebanyak 15 kali ia melakukan operasi "penyelundupan".

Suatu ketika dirinya membawa 18 drum minyak kelapa sawit tertangkap perwira Inggris. Namun, dirinya dibebaskan pengadilan di Singapura karena tidak terbukti melanggar hukum.

Berbagai peristiwa menegangkan kerap dialami, seperti saat dirinya membawa senjata semi otomatis dari Johor ke Sumatera kemudian diadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan kapalnya sedang kandas.

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa kapal the Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB.

Sepekan kemudian, John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan pangkalan AL yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tugasnya berakhir pada awal 1950. Saat ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KASAL, Laksamana TNI R. Soebijakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Radjawali.

John kemudian aktif dalam penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS). Lalu, mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda.

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), John Lie diberi gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2009. Ia juga mendapatkan gelar Laksamana Muda, jabatan tertinggi dalam militer.

Sosok John Lie di mata Jenderal Besar TNI AH Nasution pada 1988, prestasinya ”tiada taranya di Angkatan Laut” karena dia adalah ”panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik”.

Ia sangat berjasa dalam perjuangan bangsa Indonesia sehingga patut diakui sebagai pahlawan juga sama seperti orang berjasa lainnya.

Sehingga dirinya dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 November 1995, Bintang Mahaputera Adipradana atas segala jasa dan pengabdiannya.

John Lie wafat pada 27 Agustus 1988 setelah mengidap penyakit stroke. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya