PSK hingga Begal, Profesi Antimainstream Warga Kerajaan Padjadjaran saat Prabu Siliwangi Bertahta

Avirista Midaada, Jurnalis
Selasa 11 Juli 2023 06:24 WIB
Ilustrasi (Foto : Freepik)
Share :

KERAJAAN Padjadjaran menjadi salah satu kerajaan besar di Pulau Jawa bagian barat. Di masa Prabu Siliwangi konon Kerajaan Pajajaran mulai menemukan masa kejayaannya. Prasasti Batutulis menyatakan bagaimana Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi membuat sistem pertahanan dan menyejahterakan masyarakatnya.

Masyarakat Kerajaan Pajajaran konon mayoritas berprofesi sebagai pekerja di ladang. Pada Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian, telah memberikan keterangan yang cukup jelas bahwa pada masa Kerajaan Pajajaran terdapat kelompok- kelompok yang berladang.

Fery Taufiq El Jaquenne pada "Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" mengisahkan secara sistem birokrasi pemerintahan kelompok ini tidak pernah disebutkan, akan tetapi dari naskah itu menyebutkan bahwa terdapat kelompok ekonomi yang terbagi beberapa golongan, seperti rohani dan cendekiawan, kelompok alat negara, kelompok orang utas, dan kelompok juru lukis.

Kemudian kelompok pandai emas, kelompok pembuat perabot dari tembaga, kelompok pembuat wayang, kelompok penabuh gamelan, kelompok penggembala, kelompok peternak, kelompok pemungut pajak di pelabuhan, kelompok yang sebagai alat negara, kelompok prajurit atau tentara, kelompok pawang laut, dan kelompok juru masak.

Dari berbagai kelompok masyarakat yang telah disebutkan di atas, dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing, disebut ngawakan tapa di nagara atau melaksanakan tapa di tengah negara.

Hal yang menarik ditemui pada masa Kerajaan Pajajaran yakni pekerjaan yang dikerjakan oleh kelompok mencopet, mencuri, membegal, dan menjual diri (dilakukan oleh wanita) atau istilahnya pekerja seks komersial (PSK). Mata pencarian ini tidak disukai oleh masyarakat pada umumnya. Pekerjaan tersebut sebagai guru nista, yaitu hal-hal yang dianggap nista dan hina.

Dari kelompok baik dan tidak baik, mayoritas penduduk masa Kerajaan Pajajaran adalah bertani. Petunjuk mengenai bukti masyarakat berladang ditemukan dalam sumber sejarah sastra tulis maupun sastra lisan. Seperti yang tertulis dalam Carita Parahiyangan misalnya, hanya satu kali disebutkan dalam sawah, itu pun tercatat dalam suatu tempat yang disebut sawah tampian dalem.

Petunjuk lainnya mengarahkan pada masyarakat berladang, yakni ditemukan beberapa tiga orang di antaranya masing-masing menjadi pahuma (peladang), penggerak (pemburu), dan panyadap (penyadap).

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya