Selain itu ada juga berjenis bahan pakaian yang didatangkan dari Kambay (India), di samping itu juga terdapat perdagangan budak (pembantu). Pada bertransaksi, selain barter masyarakat Sunda juga menggunakan mata uang sebagai alat tukar.
Mereka menggunakan mata uang milik Cina untuk pembayaran kecil. Berdasarkan catatan Tome Pires bahwa bahwa mata uang yang digunakan oleh masyarakat Sunda pada zaman dahulu disebut ceitis, calais sama dengan 1.000 ceitis, uang mas 8 mates dan tumdaya sama dengan 15 drahma. Sayang sekali, tidak bisa mengetahui berapa kira-kira nilai tukarnya sekarang ini.
(Angkasa Yudhistira)