Pada akhir 1500-an, Belanda, Inggris, Prancis, dan Spanyol juga mulai memperdagangkan alkohol, kain, senjata api, dan barang-barang besi untuk gading, kayu keras, dan budak.
Dilansir dari National Today, perdagangan budak ini menarik perhatian penjajah Prancis, yang pada akhirnya menjadi katalis bagi penjajahan mereka selama seabad di Gabon.
Pada 1839, penguasa lokal di Gabon menandatangani penyerahan kedaulatan dan memberikan izin kepada Prancis untuk memerintah negara tersebut. Berselang sekira tiga dekade, pada 1875, penjelajah Prancis bernama Pierre Savorgnan de Brazza memulai ekspedisinya ke Gabon, dan mendirikan Franceville, salah satu kota terbesar di Gabon.
Gabon secara resmi menjadi koloni Prancis pada 1885, dan akhirnya menjadi salah satu dari empat koloni di Prancis di Afrika Khatulistiwa pada 1910.
Kekuasaan Prancis di Gabon tidak menghadapi perlawanan dari rakyat Gabon. Namun, kerja paksa dan pajak tenaga kerja untuk kesehatan masyarakat menyebabkan oposisi yang cukup besar dari masyarakat.