YOGYAKARTA - Dunia seni menghembuskan kabar duka. maestro lukis asal Yogyakarta, Djoko Pekik wafat karena sakit, Sabtu (13/8/2023).
Berikut fakta yang berhasil dihimpun:
1. Akan Dimakamkan di Taman Makam Seniman
Jenazah Djoko Pekik dimakamkan di Komplek Pemakaman Seniman Jogja, Taman Makam Seniman Giri Sapto, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (13/8/2023).
2. Sudah Siapkan Liang Makam Semenjak Hidup
"Itu permintaan Bapak dan sudah disiapkan makamnya oleh Bapak sendiri. Sudah beberapa tahun yang lalu disiapkan," kata anak ketiga Djoko Pekik, Inten Lugut Lateng, saat dihubungi, Minggu (13/8/2023).
3. Dimakamkan Minggu Siang
Inten menyampaikan bahwa jenazah ayahnya diberangkatkan dari tempat kediaman di Sembungan, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, menuju ke Taman Makam Seniman Giri Sapto sekitar pukul 13.00 WIB, Minggu (13/8/2023).
4. Sempat Dirawat
Sebelumnya, maestro lukis asal Jogja, Djoko Pekik meninggal dunia pada Sabtu (12/8/2023) pagi. Ki Djoko Pekik menghembuskan nafas terakhir pada pukul 08.19 WIB di RS Panti Rapih Yogyakarta.
Humas RS Panti Rapih, Maria Vita mengatakan Joko Pekik datang ke IGD RS Panti Rapih dengan penurunan kesadaran sekitar pukul 08.00 WIB.
Pihak rumah sakit sudah berusaha menangani Pelukis yang dikenal dengan serial lukisan Celeng ini, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.
5. Lukisan Djoko Pekik Dijual Rp1 Miliar
Sang seniman sempat menghebohkan dunia seni rupa Indonesia setelah salah satu lukisannya yang berjudul berburu celeng sempat dipamerkan pada 17 Agustus 1998 berhasil laku terjual dengan harga fantastis, yakni Rp1 miliar.
Djoko Pekik lahir di Purwodadi, Jawa tengah pada 2 Januari 1937. Dia pernah menempuh studi seni rupa di akademi seni rupa indonesia atau ASRI pada tahun 1956-1961. Setelah peristiwa gerakan 30 September 1865 djoko pekik ditangkap oleh aparat karena dianggap memiliki hubungan dengan lembaga kesenian rakyat atau Lekra. Djoko Pekik kemudian menjadi tahanan politik selama beberapa tahun di penjara benteng Vredeburg Yogyakarta.
(Khafid Mardiyansyah)