Mengetahui Jepang yang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, Hamid Rusdi bersama dengan para pejuang yang lain melakukan pelucutan senjata kepada tentara Jepang. Pelucutan senjata di Malang berjalan damai, tak seperti di daerah lainnya. Kepiawaian Hamid Rusdi melakukan pendekatan membuat tak ada insiden berdarah di Malang.
"Pelucutan senjata tentara Jepang itu bukan perkara mudah. Tetapi Hamid Rusdi saat itu menjadi komandannya dengan gagah berani melucuti senjata tentara Jepang," ujarnya.
Setelah momen Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Hamid Rusdi direkrut menjadi Badan Keamanan Rakyat atau yang saat ini disebut TNI. Selama karir militernya Hamid Rusdi mendapatkan pangkat Letnan Kolonel. Namun pada 1948, atas alasan efisiensi keuangan negara, pangkatnya turun menjadi Mayor. Setahun berselang Hamid Rusdi kembali ikut dalam pertempuran Agresi Militer Belanda II.
Pada pertempuran ini Hamid Rusdi memimpin kelompok pejuang bernama Gerilya Rakyat Kota (GRK). Dari kelompok inilah bahasa walikan atau bahasa terbalik mulai digunakan. Tujuannya adalah untuk mengelabui mata-mata dari Belanda.
"Jadi contohnya apabila ingin bicara bagus sekali atau apik sekali diganti jadi kipa ilakes. Bahasa walikan ini untuk mengelabui Belanda saat itu," ucap pria yang pernah menjabat sebagai sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).