Taktik Antigerilya Mantan Wadanjen Kopassus, Tumpas Perlawanan PGRS/Paraku Tanpa Letusan Senjata

Erha Aprili Ramadhoni, Jurnalis
Rabu 30 Agustus 2023 05:07 WIB
Prabowo Subianto dan Sutiyoso (Ist)
Share :

Setibanya di daerah operasi, pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah 6 Desember 1944 ini membaca potensi ancaman. Mantan Wadanjen Kopassus ini memutuskan menerapkan strategi antigerilya. Hal itu mengingat musuh yang dihadapi melakukan perlawanan secara gerilya dan sangat menguasai medan pertempuran.

Bersama pasukannya, Sutiyoso menggalang kedekatan dengan kepala desa, kepala suku, serta masyarakat setempat. Hal ini dilakukan untuk mengambil hati dan memisahkan masyarakat Dayak dan Tionghoa dengan gerilyawan.

Selain untuk mengetahui siapa saja musuh yang dihadapi juga untuk menghentikan pasokan logistik kepada gerilyawan. Sutiyoso bersama pasukannya berhasil menggalang kedekatan dan berbaur dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan masyarakat setempat. Mereka melakukan aktivitas bersama, memberikan pelayanan kesehatan, dan tidur bersama warga perkampungan. Namun demikian, hal itu dilakukan dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.

“Saya dan pasukan sangat berupaya jangan sampai kepala desa atau kepala suku membantu gerilyawan PGRS/Paraku. Kalau itu sampai terjadi, kami bisa dihadang oleh PGRS/Paraku,” kenang Bang Yos panggilan akrab Sutiyoso.

Upaya mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) menerapkan taktik antigerilya membuahkan hasil. Mereka berhasil mengisolasi gerilyawan PGRS/Paraku dengan masyarakat. Selama 10 bulan operasi, tak ada sebutir peluru pun yang diletuskan Sutiyoso dan pasukannya.Tidak hanya itu, tidak ada satupun anggotanya yang gugur dalam operasi tersebut.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya