Kenapa Nilai Tukar Mata Uang Rubel Rusia Turun Drastis?

Salsabila Fitirah Puteri, Jurnalis
Selasa 03 Oktober 2023 17:35 WIB
Nilai mata uang Rubel Rusia dilaporkan terus menurun (Foto: Ilustrasi/ Money Control)
Share :

MOSKOW - Nilai rubel Rusia telah mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Bank sentral negara tersebut pun telah mengambil langkah-langkah untuk mencoba mengatasi penurunan tersebut.

Selama ini, pemerintah telah membiarkan rubel melemah karena hal ini membantu anggarannya. Namun, melemahnya mata uang tersebut juga menghadirkan ancaman inflasi yang lebih tinggi bagi warga Rusia, dan akhirnya pemerintah mengambil tindakan untuk menghentikan penurunan nilai rubel.

Dilansir dari AP, nilai mata uang Rubel terus menurun diakibatkan oleh beberapa hal. Salah satunya karena Rusia telah mengalami penurunan ekspor produk ke luar negeri, terutama terlihat dari penurunan pendapatan dari sektor minyak dan gas alam. Sebaliknya, negara tersebut telah meningkatkan volume impor. Individu atau perusahaan yang mengimpor barang ke Rusia harus menukarkan mata uang asing seperti dolar atau euro dengan rubel. Tindakan ini berkontribusi pada penurunan nilai tukar rubel.

Surplus perdagangan Rusia, yang menunjukkan bahwa Rusia menjual lebih banyak barang daripada yang dibelinya, telah menyusut. Pada masa sebelumnya, Rusia memiliki surplus perdagangan yang besar, yang biasanya mendukung mata uang negara tersebut. Hal ini terjadi karena harga minyak yang tinggi dan penurunan impor setelah invasi Ukraina.

Namun, harga minyak telah turun tahun ini, dan Rusia semakin kesulitan dalam menjual minyaknya karena sanksi-sanksi Barat yang meliputi pembatasan harga minyak mentah dan produk minyak seperti solar.

Selanjutnya alasan rubel terus menurun adalah karena sanksi terhadap Rusia mulai berdampak. Meskipun sanksi tidak membuat ekonomi Rusia jatuh parah, namun ekspor dan nilai Rubel terus mengalami penurunan akibat pembatasan impor minyak Rusia oleh sekutu Barat dan pengaturan harga ekspor minyak ke negara-negara non-Barat. Sanksi ini membuat perusahaan asuransi dan pengirim barang, yang sebagian besar beroperasi di wilayah Barat, tidak dapat menangani minyak Rusia dengan harga di atas $60 per barel.

Pembatasan dan boikot ini telah memaksa Rusia untuk menjual minyak dengan diskon dan mengambil tindakan mahal, seperti mendapatkan kapal tanker yang beroperasi di luar jangkauan sanksi.

Meskipun nilai mata uang Rubel mengalami penurunan, Chris Weafer, CEO Macro-Advisory Ltd., menyatakan bahwa Rusia tidak sedang menghadapi krisis ekonomi. "Penurunan nilai Rubel sebagian besar disebabkan oleh dampak sanksi, tetapi ini tidak mengindikasikan adanya krisis ekonomi yang mendasar," kata Chris dengan tegas.

pengeluaran pemerintah dan kerjasama perdagangan dengan India dan Tiongkok juga telah membantu kinerja perekonomian Rusia lebih baik dari perkiraan banyak orang. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Rusia sebesar 1,5% tahun ini, meskipun ada tantangan ekonomi yang signifikan.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya