Kisah Pertemuan Tersembunyi Soeharto dengan Israel yang Berawal dari Operasi Alpha

Erha Aprili Ramadhoni, Jurnalis
Selasa 17 Oktober 2023 12:41 WIB
Kisah pertemuan tersembunyi Soeharto dengan Israel yang berawal dari Operasi Alpha. (Ist)
Share :

 

JAKARTA - Presiden Soeharto pernah bertemu dengan Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin. Pertemuan rahasia itu terjadi pada 16 Oktober 1993.

Diketahui, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Indonesia pun secara konsisten mendukung penuh kedaulatan Palestina.

Melansir BBC Indonesia, pertemuan Soeharto dan PM Israel Rabin digelar secara rahasia di Jalan Cendana, Jakarta. Pertemuan ini dilatarbelakangi keinginan Israel untuk membuka hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Indonesia.

"Hanya berlangsung kira-kira satu setengah jam', ucap Letjen TNI (purnawirawan) Rais Abin, mantan Panglima pasukan perdamaian PBB di Timur Tengah, mengutip BBC Indonesia, Selasa (17/10/2023).

Sejumlah laporan menyebutkan Rabin menemui Suharto setelah lawatannya ke Cina kemudian terbang ke Singapura dan kemudian ke Jakarta. "Diantarkan sendiri ke rumahnya, dan kemudian diberangkatkan lagi."

Rabin menjelaskan kedatangan Rabin ke Jakarta untuk melunakkan Indonesia agar bersedia membuka hubungan diplomatik dan perdagangan.

"Mereka berusaha mendekati kita, apalagi setelah kita (Indonesia) membeli pesawat Skyhawk."

Pertemuan Suharto-Rabin digelar tiga pekan setelah pemimpin PLO, Yaser Arafat, berkunjung ke Indonesia.

Setahun kemudian ada upaya lanjutan pertemuan antara asosiasi resmi bisnis Israel ke Indonesia yang kemudian ditindaklanjuti dalam pertemuan lebih teknis.

Melansir arsip pemberitaan Okezone, Soeharto pernah menugaskan Leonardus Benyamin (LB) Benny Moerdani, untuk menjalankan operasi pesawat bekas A-4E Skyhawk dari Israel.

Operasi yang dijalankannya itu sangat rahasia karena Indonesia tak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Ia ditugaskan langsung oleh Soeharto dengan nama sandi Operasi Alpha, diambil dari huruf depan pesawat.

Dikutip dari buku Benny Moerdani yang Belum Terungkap, pada 1979, Benny melakukan operasi rahasia membeli 32 pesawat tempur bekas A-4E Skyhawk milik Israel.

Benny mengancam jika misi operasi rahasia ini gagal, maka seluruh kewarganegaraan anggota yang ikut misi tersebut tidak akan diakui. Itu juga tertuang dalam buku bekas Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Purna wirawan Ashadi Tjahjadi, Loyalitas Tanpa Pamrih.

"Yang ragu-ragu silakan kembali sekarang," kata Ashadi dalam bukunya, mengutip pernyataan Benny.

Pembelian itu merepotkan intelijen Indonesia karena mesti mengirim tim, dari teknisi hingga pilot, tanpa terendus banyak pihak. Semua identitas prajurit yang dikirim ke Israel dibuang di laut Singapura.

Mereka menyebut Israel dengan Arizona, negara bagian Amerika Serikat. Alamat korespondensi juga diarahkan ke Kantor Atase Pertahanan KBRI Washington. Itu semua dilakukan untuk menjaga kerahasiaan.

Salah satu anggota tim, Djoko Poerwoko, dalam otobiografinya Menari di Angkasa, mengisahkan, awalnya mereka terbang ke Frankfurt menggunakan Lufthansa. Mereka tiba Bandara Ben Gurion, Tel Aviv setelah beberapa kali ganti pesawat.

Para pilot langsung digiring petugas tanpa sempat menyerahkan surat jalan laksana paspor. "Betapa hebatnya agen rahasia Mossad yang dapat cepat mengenali penumpang gelap tanpa paspor," kata Djoko dalam bukunya.

Operasi Alpha berakhir pada 20 Mei 1980. Namun, kegembriaan para penerbang tak lama karena brevet dan ijazah pendidikan selama enam bulan dibakar oleh perwira intelijen penghubung di depan mata mereka.

Semua barang milik para penerbang juga dibakar, termasuk peta navigasi dan peta perjalanan. Djoko menulis, "Mereka berpesan, tidak ada bukti kalau kalian pernah ke sini."

Para penerbang itu akhirnya pulang ke Indonesia melalui Washington setelah pendidikan. Mereka diajak keliling Amerika, tidur di sepuluh hotel, dan mencoba berbagai moda transportasi selama dua pekan. Mereka juga diwajibkan mengirim kartu pos ke Indonesia.

Mereka kemudian ke Arizona, masuk pangkalan US Marine Corps, Yuma Air Station dan menjalani pelatihan selama tiga hari. Pada hari terakhir, mereka diwajibkan berfoto seolah-olah baru diwisuda dan menerima ijazah versi Marine Corps.

Salah satu pose wajibnya adalah berdiri di depan A-4 Skyhawk milik Amerika. "Ini sebagai kamuflase intelijen," kata Djoko dalam otobiografinya.

Mereka akhirnya memamerkan Skyhawk ke publik pada peringatan ulang tahun ABRI, 5 Oktober 1980 saat kembali ke Indonesia.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya