NEW YORK - Dalam sesi tertutup pada Senin (6/11/2023), Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) gagal mencapai konsensus mengenai rancangan resolusi yang bertujuan menghentikan konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah (Timteng).
“Belum ada kesepakatan pada saat ini,” kata Wakil Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB Robert Wood, dikutip CNN.
Kelompok yang disebut E-10, terdiri dari 10 negara anggota tidak tetap DK, telah merancang sebuah resolusi untuk perdamaian di Gaza.
Namun, AS dan Inggris, anggota tetap yang memiliki hak veto, menentang resolusi itu. Negara-negara Barat, khususnya AS dan Inggris, menolak resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera, sebuah proposisi yang didukung oleh beberapa anggota Dewan lainnya.
“Ada diskusi mengenai jeda kemanusiaan, dan kami tertarik untuk membahas hal tersebut,” terangnya. Namun dia menambahkan ada perbedaan pendapat di Dewan Keamanan mengenai apakah hal itu dapat diterima.
Duta Besar China atau Tiongkok untuk PBB Jun Zhang, menggemakan sentimen yang diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal António Guterres, dengan menekankan bahwa "Gaza adalah kuburan bagi anak-anak." Zhang menyerukan gencatan senjata mendesak untuk memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Saat ini, warga sipil Palestina terus dibunuh. Anak-anaklah yang paling terkena dampaknya, seperti yang telah dinyatakan oleh beberapa pejabat AS. Gaza menjadi kuburan bagi anak-anak. Tidak ada yang aman,” terangnya.