Berjalannya waktu, Soeharto resmi menggantikan Soekarno sebagai presiden tahun 1968. Soeharto paham ketidaksukaan Hartono terhadap dirinya, dan saat itu memberikan tugas kepada Hartono sebagai Duta Besar RI di Korea Utara.
Setelah beberapa tahun, Hartono diminta kembali ke Indonesia. Namun, dirinya berkali-kali mengalami pemeriksaan, sampai-sampai tugasnya sebagai Duta Besar RI di Korea Utara sempat tertunda karenanya.
Hartono khawatir akan keselamatannya, dan merasa hidupnya tidak akan bertahan lama. Selang beberapa saat, Hartono ditemukan tewas di kamarnya akibat mendapat tembakan di kepalanya.
Saat itu, pemerintah menganggap Hartono bunuh diri. Namun, hingga saat ini, belum ada yang tahu pasti kebenaran dari kematian Hartono.
Gubernur DKI Jakarta Letjen KKO (Purn) Ali Sadikin dan mantan Wakasal Laksamana Madya Rachmat Sumengkar menyangsikan keterangan itu. Sebab, data yang ditemukan di rumah Hartono berbeda dengan hasil investigasi resmi yang dikeluarkan RSPAD.
Untuk mengenang jasanya, nama Hartono diabadikan menjadi nama Kesatrian di Brigade Infanteri 2/Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Kesatrian Marinir Hartono yang diresmikan oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Nono Sampono.
(Fakhrizal Fakhri )