Adapun Yunani, sebut Wapres, juga memiliki karakteristik yang sama dengan Indonesia dalam kehidupan keberagamaannya. Menurutnya, meskipun terdapat berbagai agama, masyarakat Yunani tetap membangun kasih sayang di antara manusia tanpa membedakan agama yang dianutnya.
“Dia (Uskup Ieronymos II) juga sama, di negara dia sendiri, dia ingin membangun bahkan di sini mulai diajarkan tentang studi Islam di universitas. Jadi sudah mulai terbuka begitu, dan juga untuk pengungsi-pengungsi mereka juga perlakukan dengan baik,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan, terang Wapres, Yunani juga ingin terus membangun relasi yang baik dengan berbagai agama yang berbeda dengan mayoritas agama yang dianut masyarakatnya.
“Artinya mereka ingin juga membangun hubungan yang baik [misalnya] dengan pihak Islam. Mungkin dulu waktu Islam masuk ke Eropa ada pergesekan, tetapi sekarang (damai). Kalau kita kan Islam masuk ke Indonesia dalam damai,” ungkap Wapres.
“Ini di sini lebih berat lagi untuk menghilangkan kesan-kesan yang dulu ada konflik agama di sini, (sehingga) kita ingin mengajak seperti yang kita alami di Indonesia,” imbuhnya.
Oleh karena itu, sekali lagi Wapres menyerukan kepada para tokoh agama di Yunani untuk terus berperan aktif dalam menjaga toleransi dan kedamaian, termasuk membantu menyelesaikan konflik-konflik di berbagai belahan dunia.
“Dunia ini sedang tidak baik-baik saja, maka dari itu, tokoh-tokoh agama harus mengambil peran lebih, (misalnya melalui) pertemuan-pertemuan yang banyak, mungkin dari pertemuan-pertemuan itu, (salah satunya) akan ada Indonesia [yang] mengundang mereka,” pungkasnya.
(Awaludin)