JAKARTA - Kota Saranjana ramai diperbincangkan wargganet. Meskipun, kebenaran keberadaan kota yang diyakini modern dan canggih itu masih misterius. Namun sejumlah cerita beredar luas di dunia maya.
Keberadaan kota yang disebut terletak di Desa Oka-Oka, Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, dipercayai memiliki peradaban sangat maju.
Melansir Burhan Nahrub Channel, Haji Mansur, salah seorang tokoh masyarakat di Desa Oka-Oka, membagikan pengalamannya bersama keempat temannya yang hendak berusaha mengambil emas batangan di Gunung Saranjana pada 2018.
Kenapa Kota Saranjana Lenyap dari Peta Indonesia?
Konon, emas batangan itu berjumlah sebanyak delapan buah yang telah berada di dalam sumur sejak 30 tahun silam.
Menurut juru kunci alias kuncen wilayah itu yang disebutkan seorang Ibu Haji bersuamikan penduduk Saranjana, emas tersebut milik sebuah keluarga yang menitipkannya di Kota Saranjana. Pencarian emas itupun dimulai dengan mencari sumur yang disebut sebagai lokasi tersimpannya emas.
Adpun ciri-ciri keberadaan emas ditandai dengan adanya seutas tali biru di dalam sumur. Sebanyak tiga sumur yang telah digali, pada saat menggali sumur keempat dengan kedalaman 1,5 meter terlihatlah tali berwarna biru.
“Pas kejadian itu ketika kami lihat tali biru, kebetulan teman kita yang satu dirasuki atau kerasukan orang Saranjana," ujar Haji Mansur.
Saat temannya kerasukan penghuni Saranjana itu membenarkan bahwa emas tersebut berada di dalam sumur namun tidak bisa diambil karena keesokan harinya hari kemerdekaan (17 Agustus). Setelah itu, Haji Mansur dan teman-temannya kembali ke desa dan meminta solusi kepada juru kunci.
"Kata Bu Haji coba nanti hari Rabu ke sana lagi. Kan permintaan mereka di atas itu (penghuni Saranjana) kan hari Rabu," lanjut Haji Mansur.
BACA JUGA:
Tepat pada hari Rabu, Haji Mansur lantas kembali melanjutkan pencarian ke Gunung Saranjana dengan membawa barang-barang yang telah disebutkan sebagai syarat untuk mengambil emas. Barang-barang itu di antaranya ialah telur, daun sirih, rokok, kopi dan kemenyan.
Tak lama membakar kemenyan, seorang temannya kembali kerasukan orang Saranjana. Orang Saranjana melalui tubuh temannya itu lantas berbicara mempertanyakan tujuan kedatangan mereka dan siapa yang menyuruhnya.