SOLO - Dokter Lo Siauw Ging, dokter yang dikenal berjiwa sosial karena menggratiskan biaya pasien-pasiennya untuk berobat meninggal dunia di Rumah Sakit Kasih Ibu, Selasa, (9/1) pada pukul 14.00 WIB.
Sosoknya pun dikenang sebagai seorang pengabdi. Dokter Lo meninggal pada usia 89 tahun karena sebuah penyakit yang ia derita sejak beberapa tahun terakhir.
Salah seorang pasien Dr. Lo, Setro yang merupakan korban kecelakaan sepeda motor. Menceritakan ketika dirinya digratiskan berobat.
Saat datang berobat ke Dokter Lo, Setro masih mengingat bahwa dirinya selalu mendapatkan pertanyaan naik transportasi apa saat datang berobat.
"Kamu kesini naik apa ? Rumahmu dimana ? Uangmu bawa berapa? Dokter lo ga pernah bertele-tele bertanya langsung. Lalu sakitnya apa diperiksa dulu. Diperiksa selesai dia langsung bilang kasih apotik ga usah bayar. Masuk bansos saya, besuk kalau belum sembuh balik kesini," terang Setro.
Selain menggratiskan pasien berobat, Setro bahkan sering melihat pasien-pasien diberikan uang transportasi usai berobat.
"Ada juga yang dikasih uang buat transportasi, saya sering lihat kayak gitu ke pasiennya. Saya tahu juga selama dia menjabat di Rumah Sakit Kasih Ibu uang gaji, dan lain tidak pernah dipegang dia. Dipegang asisten yang merawat di Kasih Ibu yang dipercaya. Itu juga cuma dipakai bayar listrik, PDAM sama PBB dipakai buat itu," tutupnya.
Salah seorang tokoh Thionghoa Sumartono Hadinoto yang mengenal baik Dokter Lo menceritakan bahwa memang Dr. Lo sering keluar masuk rumah sakit dalam beberapa tahun terakhir.
"Beberapa tahun ini keluar masuk rumah sakit. Ya memang karena kondisinya sudah sepuh (tua)," ujarnya.
Sebelum kepergiannya Dr. Lo sempat dirawat inap di RS Kasih Ibu pada Jumat (5/1) karena kondisinya yang terus memburuk. Sang dokter kemudian dikremasi di Krematorium Delingan, Kamis (11/1) besok.
"Terus Jumat, (5/1) itu drop ke rumah sakit lagi terus hari ini meninggal. Mau dibawa ke tiong ting dikubur ke tiong ting," terang CEO Palang Merah Indonesia (PMI) Solo itu.
Dokter Lo sendiri diketahui merupakan seorang dokter umum yang mengawali karirnya di Rumah Sakit Dr. Oen lalu berpindah ke Rumah Sakit Kasih Ibu, hingga membuka praktik sendiri di rumah. Sumartono mengenang sang dokter lewat pesan-pesan yang selalu sering ia disampaikan kepada dirinya dan rekan-rekan seprofesi.
"Kalau mau kaya jangan jadi dokter. Itu pesan ayahnya dulu ke dokter Lo. Kalau mau kaya jadi pebisnis. Kalau jadi dokter harus melayani orang banyak, berbagi, dan melayani orang banyak di bidang kesehatan. Tidak perlu memikirkan uang, yang penting bisa melayani orang menjadi sehat itu yang disampaikan," jelasnya.
Sumartono juga menyebut bahwa Dokter Lo terus berkontribusi nyata. Hampir semua pasien Dokter Lo digratiskan saat berobat.
"Banyak sekali yang bisa dibantu sampai sembuh. Beliau siapapun tanpa pandang bulu dibantu, sampai sehat kalau perlu dibelikan obat. Saya, anak, dan cucu semua pasien Dokter Lo," katanya.
(Fahmi Firdaus )