Ibu Pertiwi Sedang Hamil Tua

Opini, Jurnalis
Jum'at 02 Februari 2024 04:29 WIB
Pakar Telematika, Roy Suryo (foto: dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Ketika Alm. H. Rosihan Anwar (10/05/1922 – 14/04/2011), seorang Sejarawan, Sastrawan, Budayawan dan Calon Anggota Konstituante (mewakili Partai Sosialis Indonesia) menulis buku "Sebelum Prahara Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965" yang diterbitkan Penerbit Sinar Harapan Tahun 1980, banyak masyarakat yang terusterang belum benar-benar bisa memahami apa yang dirasakan oleh Beliau dan Rakyat Indonesia saat itu, karena saat peristiwa aslinya terjadi menjelang G-30S/PKI Tahun 1965, memang banyak generasi sekarang yg belum lahir, utamanya adalah Millenial apalagi Gen-Z. Namun apakah bisa alasan "belum lahir" ini digunakan sebagai apologi seseorang untuk abai terhadap peristiwa yang sekarang terjadi?.

Tentu jawabannya adalah TIDAK (bahkan saya tulis dgn Huruf Besar/Kapital), karena urusan kedepan Bangsa ini bukan hanya milik segelintir orang, apalagi hanya oleh satu keluarga saja. Jadi memang tulisan kemarin ("Rencana Mundurnya Prof Mahfud MD ditinjau dari sisi Manajemen OCB") sekarang sudah benar-benar terlaksana, artinya Beliau secara Ksatria sudah mengundurkan diri dengan mengedepankan Hati dan Etika, alias bukan hanya letterlijk Aturan Hukum, apalagi aturan yang memang sengaja diubah / dibuat untuk meloloskan hal-hal tertentu, misalnya yang belum cukup umur tetapi dipaksakan kemarin.

Jadi kalimat "Ibu Pertiwi sedang Hamil Tua" yang disitir oleh Alm Rosihan Anwar tersebut sebenarnya berlayar belakang tahun 1965, dimana saat itu Anwar Sanusi (dari Partai yang sekarang terlarang, PKl) dalam sambutannya pada penutupan Latihan Sukwan Bantuan Tempur BNI yang awalnya memang mengatakan "Kita sekarang berada dalam situasi di mana Ibu Pertiwi sedang dalam keadaan hamil tua. Sang Paraji, Sang Bidan sudah siap dengan segala alat yang diperlukan untuk menyelamatkan kelahiran Sang Bayi yang lama dinanti-­nanti. Sang Bayi yang akan lahir dari kandungan Ibu Pertiwi itu adalah suatu kekuasaan politik yang sudah ditentukan dalam Manipol yaitu kekuasaan gotong-royong yang berporoskan Nasakom bersoko-guru buruh dan tani.”

Saat ini kondisi sosial-politik Indonesia memang belum bisa disamakan dengan situasi saat itu, bahkan dimiripkan dengan kondisi hari-hari terakhir Orde Baru (Mei 1998) saja masih belum, namun embrio-embrionya sudah mulai terasa dilingkungan kampus-kampus. Mulai dari UGM dan UII di Jogja, kemudian UI di Jakarta, rencana selanjutnya dikampus-kampus lain seluruh Indonesia bahkan bukan tidak mungkin Rakyat selaku The Silent Majority akan ikut bergerak bilamana memang kontraksi (bak bayi yang akan lahir) ini sudah terasa sampai ke pelosok negeri. Bagaimanapun juga Gerakan Moral di Indonesia sudah terbukti ampuh untuk menurunkan Rezim yang dirasa mulai melenceng oleh masyarakat dan hal tersebut tidak akan bisa dibendung karena "wis wayah-e" (Jw) yang artinya sudah waktunya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya