Sementara itu kepada jemaat yang memberikan dukungan kepada Paslon 02, Romo Magnis sebagai warga negara dan pengamat politik secara tajam mempertanyakan apa pertimbangan untuk mendukung Prabowo Subianto yang terlibat dalam Tragedi 98, di mana banyak ribuan korban jiwa jatuh dan banyak wanita yang diperkosa pada saat itu. Ia pun menceritakan bahwa ada salah satu mahasiswanya dari Sekolah Tinggi Driyakara yang tidak kembali dan terbunuh dan hingga sekarang kasusnya belum terbuka.
“Granat tidak akan berhenti menjadi granat kalau ditempatkan dalam sebuah patung yang bagus, granatnya tetap ada. Saya tidak percaya sama sekali jika mendadak dalam setengah tahun terakhir terjadi perubahan karakter,” jawabnya atas pertanyaan mengenai karakter Prabowo yang sekarang telah berubah menjadi seseorang yang menarik dan kebapakan serta dijuluki gemoy.
Menanggapi tentang 3 Paslon dalam Pilpres 2024, Romo Magnis menyebutkan kriteria-kriteria calon pemimpin bangsa sebagai pedoman bagi masyarakat untuk menentukan pilihan. Adapun kriteria tersebut adalah calon pemimpin yang memberikan rasa aman, jujur dan punya integritas, yang mampu untuk tidak melekat kepada keluarga apalagi mencari keuntungan financial, mau memajukan bangsa, terbuka, toleran, tidak terlibat korupsi, serta tidak mempunyai masa lampau gelap dengan tangan yang berdarah.
Ditanya tentang keberaniannya untuk bersikap dan menyampaikan pendapat yang terkesan sangat keras, Romo Magnis mengatakan bahwa saat ini situasi di Indonesia sangat serius di mana demokrasi dan reformasi dapat segera berakhir jika jatuh ke tangan orang yang berkuasa tanpa etika. Menurutnya jika ada yang tidak benar maka waktunya rakyat Indonesia termasuk dirinya untuk bergerak dan bicara.
Di akhir diskusi, Romo Magnis mengimbau masyarakat yang merasa malas ikut serta dalam Pemilu dan menggunakan hak suara untuk tidak menyerah selama masih ada kesempatan agar Indonesia tidak kembali ke masa orde lama. Ia pun menutup dengan pepatah Jerman yang diterjemahkan “hanya sapi-sapi paling bodoh sendiri pergi ke tukang jagal”.
“Kalau orang abstain sama sekali tidak memperhatikan input, ya jangan heran jika dijadikan objek,” tambahnya.
(Qur'anul Hidayat)