SEOUL - Pada suatu Selasa (27/2/2024) sore yang hujan, Yejin sedang memasak makan siang untuk teman-temannya di apartemennya, tempat dia tinggal sendirian di pinggiran kota Seoul, Korea Selatan (Korsel). Di apartemen ini, dia hidup melajang bahagia.
Saat mereka makan, salah satu dari mereka menampilkan meme kartun dinosaurus di ponselnya. "Hati-hati," kata dinosaurus. “Jangan biarkan dirimu punah seperti kami," lanjut tulisan meme itu.
Semua wanita tertawa. “Ini lucu, tapi ini kelam, karena kita tahu kita bisa menyebabkan kepunahan kita sendiri,” kata Yejin, seorang produser televisi berusia 30 tahun.
Baik dia maupun teman-temannya tidak berencana memiliki anak. Mereka adalah bagian dari komunitas perempuan yang terus berkembang dan memilih kehidupan tanpa anak.
Korea Selatan mempunyai tingkat kelahiran terendah di dunia, dan angka kelahirannya terus menurun, melampaui rekor terendahnya dari tahun ke tahun.
Angka yang dirilis pada Rabu (28/2/2024) menunjukkan penurunan sebesar 8% lagi pada tahun 2023 menjadi 0,72. Tingkat kelahiran di Seoul telah merosot menjadi 0,55, yang terendah di negara tersebut.
Angka ini mengacu pada jumlah anak yang diharapkan dimiliki oleh seorang perempuan seumur hidupnya. Agar populasi tetap stabil, angkanya harus 2,1.
Jika tren ini terus berlanjut, populasi Korea diperkirakan akan berkurang setengahnya pada tahun 2100.
Secara global, negara-negara maju mengalami penurunan angka kelahiran, namun tidak ada penurunan yang ekstrim seperti Korea Selatan.
Dalam waktu 50 tahun, jumlah penduduk usia kerja akan berkurang setengahnya, jumlah penduduk yang memenuhi syarat untuk mengikuti wajib militer akan menyusut sebesar 58%, dan hampir separuh populasi akan berusia di atas 65 tahun.
Hal ini menjadi pertanda buruk bagi perekonomian, dana pensiun, dan keamanan negara sehingga para politisi menyatakannya sebagai darurat nasional.