ABDUL Kahar Muzakkar seorang tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia asal Tanah Luwu, Sulawesi Selatan. Tapi belakangan dia malah memberontak pada negara yang dicintainya. Perkaranya karena ketidakpuasannya atas pemerintahan dijalankan Presiden Soekarno.
Sejarah mencatat bahwa pemberontakan Tentara Islam Indonesia (TII) yang digerakkan oleh Kahar Muzakkar di Sulawesi salah satu perlawanan terbesar pasca-kemerdekaan RI. Pemberontakan ini terjadi selama 15 tahun sejak 1950.
Kahar Muzakkar merupakan orang kepercayaan Soekarno. Dulu, Kahar salah satu pengawal setia Bung Karno. Tapi, ketika berkuasa, Soekarno justru mengecewakan Sang Patriot tersebut.
BACA JUGA:
Kahar Muzakkar waktu itu menuntut agar pasukannya yang tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dileburkan ke Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI, kini TNI). KGSS sudah berjasa berjuang untuk Indonesia, sehingga ia ingin jasanya diakui negara.
Pada 30 April 1950, Kahar mengirim surat pada pemerintah pusat dan pimpinan APRI, agar segenap barisan KGSS dimasukkan ke APRI dengan mengambil nama “Brigade Hasanuddin”. Ini sebagai respons pemerintah yang ingin membubarkan KGSS usai revolusi kemerdekaan.
Namun, tuntutan itu ditolak Presiden Soekarno. Alasannya, mayoritas anggota KGSS tak memenuhi syarat sebagai tentara yang profesional. Hanya segelintir yang lolos dalam saringan perekrutan APRI.
Pemerintah hanya bersedia memasukkan eks-KGSS ke Korps Cadangan Militer. Hal itu tak sesuai harapan Kahar. Dikutip dari buku “100 Tokoh yang Mengubah Indonesia”, di situlah kekecewaan Kahar memuncak.
BACA JUGA:
Beberapa bulan kemudian, pemerintah pusat coba persuasif dengan memberinya pangkat “Overste” atau Letnan Kolonel, demi meredam kekecewaan Kahar. Namun, ketika akan dilantik pada 17 Agustus 1951, Kahar justru kabur dengan membawa serta sejumlah persenjataan dan jadi titik nol pemberontakannya.
Sebelumnya, Kahar sudah pernah beberapa kali dikecewakan pemerintah pusat. Salah satu persoalan sebelum tuntutannya pada 30 April 1950 itu adalah terkait pembentukan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Oktober 1945.
Namun, KRIS justru lebih “dikuasai” golongan Mihanasa-Manado dan membuat perannya sebagai sekretaris terkucilkan, sampai memutuskan keluar dari KRIS.
Terlepas dari hal itu setelah tuntutannya ditolak Soekarno, Kahar membentuk brigadenya sendiri. Pada 7 Februari 1953, Kahar memutuskan bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.
Gerakan pasukannya yang berkekuatan sekitar 15 ribu pengikut, mengatasnamakan agama dan sepak terjangnya lebih kepada melancarkan teror kaum aristokrat dan para bangsawan yang bertentangan dengannya.
BACA JUGA:
Pada tahun itu, muncul pemberontakan lain di Sulawesi, Perdjuangan Rakjat Semesta (Permesta). Di sisi lain, pemberontakan Kahar justru juga mulai melemah akibat ‘digembosi’ dari dalam sejak 1957.
Pergerakan pasukan Kahar mulai tak mendapat aliran suplai dari Andi Selle, pensiunan APRI. Seperti disadur dari buku ‘Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar”, Andi Selle dipengaruhi Pangdam XIV/Hasanuddin, Kolonel Muhammad Jusuf, untuk tak lagi ikut campur dalam penyaluran suplai pasukan Kahar.
Jusuf juga berkehendak berunding dengan Kahar untuk menyelesaikan konflik. Tapi di tengah jalan, pemberontak simpatisan Andi Selle malah menembaki mobil Jusuf.
Beruntung, Jusuf selamat dan di hari berikutnya, Jusuf melayangkan laporan kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Letnan Jenderal Achmad Jani dan Presiden Soekarno, bahwa perundingan tak dibutuhkan lagi.
Di saat itulah dikirim pasukan TNI dari Jawa untuk melancarkan “Operasi Kilat”. Di satu pihak, pasukan Kahar kian berkurang, terlebih setelah koleganya, Bahar Mattaliu “termakan” propaganda pemerintah, bahwa Presiden Soekarno memberi amnesti pada semua yang ingin menyerah.
Uang jadi “pancingan” yang sukses untuk menginsyafkan puluhan ribu pengikut Mattaliu. Pasalnya, mereka yang memang mulai terdesak ekonomi, dijanjikan tunjangan Rp250 ribu oleh pemerintah.
Memasuki 1965, pasukan Kahar mulai terdesak dan pada 3 Februari, Kahar disergap pasukan Siliwangi dari Batalyon 330 Kujang I. Dalam berbagai literatur, di saat itulah, tepatya di tepi Sungai Lasolo, Kahar tertembak Kopral Sadeli dan langsung tersungkur tewas. Juli 1965, seluruh pengikutnya menyerahkan diri di Gerungan.
Tapi ada beragam spekulasi soal Kahar, terlebih jenazah dan kuburannya tak pernah diungkap di kemudian hari. Kolonel Jusuf sendiri yang membawahi “Operasi Kilat” itu tak pernah mau buka mulut soal jenazah dan pusara Kahar.
Ada berbagai rumor soal Kahar, mulai dari jenazahnya dibawa ke Jakarta, dimakamkan di Kendari, dikebumikan dekat Bandara Makassar, sampai rumor yang menyatakan dia sebenarnya masih hidup.
Namun kepastian Kahar sudah meninggal akhirnya dikonfirmasi istri kedua Kahar yang berdarah Belanda, Corry van Stenus, lewat pengakuan anak-anak Kahar ketika diizinkan melihat sendiri jenazah Kahar di Rumah Sakit Palemonia, Makassar.
(Salman Mardira)