ABU DHABI - Uni Emirat Arab (UEA) berencana akan tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Israel walaupun dunia internasional sedang ramai mengecam Israel terkait meningkatnya jumlah korban perang di Gaza.
Mengutip Reuters, UEA yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel di bawah Abraham Accords yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) pada tahun 2020 telah membuka peluang bagi negara-negara Arab lainnya untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini merupakan tindakan melanggar tabu dalam menormalisir hubungan dengan Israel tanpa mempertimbangkan pembentukan negara Palestina.
Selain itu, penasihat Presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, telah menolak gagasan untuk memutuskan hubungan dengan Israel pada bulan Januari lalu dan menjelaskan bahwa hubungan dengan Israel ini pada awalnya adalah keputusan strategis yang dibuat untuk jangka panjang.
Serangan Hamas terhadap Israel pertama kali pada tanggal 7 Oktober telah mengakibatkan korban jiwa sebanyak 1.160 orang. Hal ini mendorong Israel untuk menghancurkan Hamas dengan meluncurkan serangan tanpa henti di Gaza hingga mengakibatkan korban jiwa sedikitnya 28.340 orang, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak Palestina.
UEA yang masih tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Israel pun akhirnya memberi peringatan terhadap Israel. Mengutip France 24, UEA bersama beberapa negara Teluk Arab telah memperingatkan Israel untuk tidak melancarkan serangan terhadap kota Rafah yang berada di ujung selatan Jalur Gaza, tempat sekitar 1,4 juta orang mengungsi.
Seorang duta besar UEA bernama Lana Nusseibeh menyampaikan manfaat mengadakan kerja sama dengan Israel dengan maksud untuk mengutarakan dukungan sebenarnya dari UEA untuk penduduk Palestina di Gaza.
“Karena kerja sama itu kami memiliki rumah sakit lapangan di Gaza dan kami memiliki rumah sakit maritim yang berlabuh di pelabuhan Al-Arish,” kata Nusseibeh dalam KTT Pemerintah Dunia, pertemuan tahunan para pemimpin bisnis dan politik di Dubai.
Nusseibeh juga menyatakan bahwa apa yang telah disediakan oleh UEA bagi penduduk Palestina di Gaza tersebut masih belum dapat mencukupi kebutuhan warga Palestina. Apa yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk Gaza ialah gencatan senjata serta solusi bagi kedua negara.
“Anda tidak dapat menyangkal hak Palestina untuk menjadi negara, dan itu adalah konsensus Arab. Harus ada kemajuan yang tidak dapat diubah dalam solusi dua negara agar mitra regional dapat ikut serta dalam rekonstruksi (Gaza),” tambah Nusseibeh.
Namun tampaknya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tidak menunjukkan minat sedikit pun untuk mengadakan kembali perundingan menuju negara Palestina. Melihat pergerakkan Israel yang tetap akan melancarkan serangan terhadap Gaza telah mengundang peringatan dari pejabat senior Uni Emirat Arab pada bulan Januari lalu.
“Semakin lama hal ini berlangsung, Israel akan semakin terisolasi. Bahkan perdamaian yang hangat pada akhirnya bisa berubah menjadi perdamaian yang dingin,” kata pejabat tersebut, mengutip The Times of Israel.
Peringatan ini merupakan peringatan paling keras yang diterima Israel dari mitra Abraham Accords sejak pecahnya perang Israel-Hamas di Gaza. Jika perang ini masih terus berlangsung, maka akan merubah perhitungan UEA dalam mempertahankan hubungan dengan Israel.
(Susi Susanti)